Kredit Foto: Istimewa
South China Morning Post (SCMP) resmi menggelar China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, bekerja sama dengan KADIN Indonesia dan Danantara Indonesia. Konferensi ini menyoroti peran Indonesia yang kian strategis sebagai pusat ekonomi regional bagi investasi, ketahanan rantai pasok, dan diplomasi ekonomi.
Seiring dengan semakin eratnya kerja sama strategis antara Tiongkok dan Indonesia, konferensi ini menjadi wadah untuk membentuk dialog kebijakan, memperkuat hubungan bisnis, serta mendorong inovasi di kawasan ASEAN dan sekitarnya.
The Hon CY Leung, GBM, GBS, JP, KCM, Former Chief Executives of the Hong Kong Special Administrative Region, menyatakan, Tiongkok dengan tegas menentang unilateralisme dan proteksionisme serta tanpa lelah membela sistem pelatihan multilateral.
Inisiatif tata kelola global yang diusulkan tahun lalu oleh Presiden Xi Jinping, lanjut dia, telah menunjukkan arah ke depan bagi dunia di tengah tantangan terhadap tatanan global. “Inisiatif ini telah memperoleh dukungan dari lebih dari 150 negara dan organisasi internasional,” ucap dia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut Hong Kong sebagai mitra ekonomi strategis bagi Indonesia. Hong Kong, kata Airlangga, memiliki kemitraan ekonomi khusus dengan Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral sekitar USD6,5 miliar, serta telah menanamkan investasi sebesar USD10 miliar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Airlangga: Ekonomi RI 2026 Optimis Tumbuh, Potensi Resesi Hanya 3%
Ia juga menambahkan bahwa perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang mulai berlaku pada 2020 telah membuka dan memperkuat hubungan ekonomi serta bisnis antara Indonesia dan Hong Kong.
Di tengah lanskap global yang dipengaruhi oleh pergeseran geopolitik serta kemajuan teknologi yang pesat beserta dampaknya, Publisher of SCMP, Tammy Tam, menambahkan bahwa relasi yang terpercaya dan pandangan para ahli kini menjadi kunci keberhasilan.
Didukung oleh inovasi digital dan standar editorial yang kredibel, SCMP menyampaikan narasi tentang Tiongkok dan Asia Tenggara secara mendalam sekaligus independen, membawa pembaca tak hanya mencermati tren, tetapi juga mampu menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi langkah nyata.
SCMP telah menjalin kemitraan strategis dengan Kadin Indonesia, yang memungkinkan pertukaran wawasan mengenai Tiongkok dan Indonesia, masing-masing sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Penyelenggaraan konferensi ini merupakan salah satu hasil dari kemitraan strategis antara SCMP dan Kadin Indonesia, yang bertujuan menjembatani pertukaran wawasan antara Tiongkok, Indonesia, dan Asia Tenggara, sekaligus menghubungkan pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan investor melalui dialog serta kolaborasi yang bermakna.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menambahkan pihaknya meyakini Tiongkok, Indonesia, dan Asia Tenggara secara lebih luas dapat menjadi mesin dan pusat produksi pertumbuhan global penting dalam beberapa dekade mendatang.
“Kita dapat menjadi penggerak pertumbuhan dengan mendorong permintaan, inovasi, dan model bisnis baru di pasar yang mencakup lebih dari dua miliar penduduk,” tambah dia.
Baca Juga: Industri Pengolahan Konsisten Jadi Penyumbang Terbesar Ekonomi Nasional
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyampaikan bahwa Danantara Indonesia adalah bank talenta dengan tugas utama menarik talenta global terbaik ke Indonesia untuk mendorong organisasi ini ke depan.
“Kami belajar dari praktik yang diterapkan Hong Kong dalam menarik modal, sekaligus memperkuat transparansi, supremasi hukum, dan mengomunikasikan kisah Indonesia dengan lebih baik kepada dunia. Sebagai sovereign fund, kami memiliki tujuan utama yang jelas yakni Danantara harus dikelola untuk menghasilkan keuntungan,” ucap dia.
“Tidak boleh ada politisi di dalam perusahaan, pengelolaannya harus sepenuhnya profesional. Kami juga menerapkan business judgment rule, sehingga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan komersial yang sehat tanpa rasa takut terhadap kriminalisasi. Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memposisikan Indonesia sebagai tujuan investasi global jangka panjang yang kredibel,” tegas dia.
Program konferensi ini juga menghadirkan HE Hashim S. Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Bidang Iklim dan Energi; Duta Besar Wang Qing, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk ASEAN; Zhou Kan, Charge d’Affaires ad interim Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok; serta The Hon Dr Horace Cheung Kwok-kwan, Deputy Secretary for Justice, Government of the Hong Kong Special Administrative Region.
Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia dan berbagai negara di kawasan, sekaligus menandai 75 tahun hubungan Tiongkok–Indonesia dan peran Indonesia yang semakin penting dalam membentuk kerja sama ekonomi regional menjelang APEC 2026 di Shenzhen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri