Kredit Foto: Ayu Rachmaningtyas Tuti Dewanto
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan sektor industri pengolahan konsisten menjadi penyumbang terbesar ekonomi nasional melalui kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS), industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir dan cenderung terus signifikan hingga mencapai 5,30 persen pada tahun 2025.
Baca Juga: Airlangga: Lebaran Dorong Mobilitas, Pariwisata, dan Pertumbuhan Ekonomi
Menperin menegaskan bahwa prestasi yang diraih oleh industri pengolahan ini tidak terlepas dari kontribusi sektor industri dalam negeri yang terus bertahan di tengah dinamika ekonomi global.
“Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” kata Menperin, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Rabu (11/2).
Kontribusi industri pengolahan tersebut tidak terlepas dari kinerja sektor industri, khususnya Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang juga mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun 2025. Sektor IKFT mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,21 persen. Selain itu, sektor ini juga berkontribusi sebesar 3,87 persen terhadap PDB dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83 persen.
“Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan nonmigas serta mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo.
Kinerja positif sektor IKFT di tahun 2025 didukung oleh beberapa subsektor yang tumbuh secara signifikan. Kenaikan tertinggi ditunjukkan oleh subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dengan pertumbuhan mencapai 8,35 persen, naik 2,49 persen dari tahun 2024 yang sebesar 5,86 persen. Kenaikan cukup tinggi juga dicatatkan oleh subsektor industri barang galian bukan logam yang tumbuh hingga 6,16 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sempat mengalami kontraksi sebesar 0,6 persen.
Selain kinerja produksi, dari sisi perdagangan, sektor IKFT mencatatkan neraca surplus selama periode Januari-November 2025 dengan nilai ekspor mencapai USD 49,15 miliar, naik USD 6,26 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Hal ini turut didukung oleh kinerja ekspor sektor unggulan, salah satunya subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia yang mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 20,79 miliar.
Lebih lanjut, subsektor industri kimia berbasis pertanian turut mengalami kenaikan ekspor signifikan yang sebelumnya USD 6,25 miliar naik menjadi USD 9,25 miliar. Peningkatan ini juga disusul oleh subsektor industri alas kaki keperluan sehari-hari yang meningkat dari USD 2 miliar menjadi USD 3 miliar.
“Di tengah dinamika global saat ini, permintaan masyarakat dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Angka-angka ini mencerminkan daya tahan sektor IKFT untuk tetap berkontribusi dalam rantai pasok global,” tambah Sri Bimo.
Disisi lain, investasi di sektor IKFT juga mencatatkan hal menggembirakan. Selama periode Januari–September 2025, realisasi investasi sektor IKFT mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama di 2024 yang sebesar Rp116,54 triliun. Investasi terbesar dicatatkan oleh subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia yaitu sebesar Rp58,4 triliun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya