Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gegara Hal Ini, Harga Bitcoin (BTC) Diproyeksi Turun Lebih Rendah Lagi

Gegara Hal Ini, Harga Bitcoin (BTC) Diproyeksi Turun Lebih Rendah Lagi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Investasi Global, Standard Chartered menurunkan proyeksi harga jangka pendek dan setahun penuh untuk bitcoin. Langkah ini diambil seiring meningkatnya risiko penurunan harga akibat arus keluar dana dari produk exchange-traded fund (ETF) serta tekanan kondisi makroekonomi global.

Dalam proyeksi terbarunya, lembaga keuangan itu memperkirakan harga bitcoin berpotensi turun hingga kisaran US$50.000. Bitcoin sendiri masih diperdagangkan dalam area sekitar US$66.000 di Jumat (13/2).

Baca Juga: Ikut Pelemahan Nasdaq, Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (13/2) Turun ke US$65.000!

Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, Geoff Kendrick mengatakan tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir berpeluang berlanjut. Menurutnya, investor exchange-traded fund yang kini banyak berada dalam posisi rugi cenderung memilih mengurangi eksposur dibandingkan melakukan strategi “buy the dip”.

“Dengan kondisi saat ini, investor lebih mungkin memangkas posisi daripada menambah kepemilikan,” ujar Kendrick.

Namun Kendrick menilai pelemahan tersebut tidak bersifat permanen. Setelah harga menemukan titik dasar, ia memperkirakan pasar kripto akan pulih secara bertahap hingga akhir 2026. Namun, Standard Chartered tetap memangkas target harga bitcoin pada akhir tahun menjadi US$100.000.

Pasar kripto sendiri mengalami tekanan signifikan sejak awal 2026. Bitcoin telah turun tajam dari level tertinggi pada akhir 2025. Penurunan ini disertai volatilitas tinggi, likuidasi besar-besaran posisi leverage, serta sentimen risk-off yang membuat pergerakan kripto semakin berkorelasi dengan pelemahan pasar saham global.

Tekanan makro seperti kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan ketidakpastian arah suku bunga global mendorong investor beralih ke aset lindung nilai tradisional, seperti emas. Di sisi lain, mandeknya kejelasan regulasi serta masalah likuiditas di sejumlah institusi turut membebani kepercayaan pasar.

Kombinasi faktor-faktor tersebut berdampak pada menurunnya volume perdagangan dan pendapatan perusahaan yang terpapar kripto, sekaligus memperkuat sentimen bearish di sebagian besar aset digital.

Baca Juga: Harga Bitcoin (BTC) Turun, Michael Saylor: Kami Akan Terus Beli Selamanya!

Bagi Indonesia, laporan ini menjadi peringatan bahwa volatilitas kripto masih tinggi dan pergerakan harga ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arus dana institusional serta dinamika ekonomi global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: