Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah akan memulai tahap kedua proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy/WTE) pada Maret 2026. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan tender terbuka untuk batchkedua ditargetkan berlangsung setelah finalisasi lokasi proyek.
“Kurang lebih batch keduanya akan dimulai pada bulan Maret mungkin pertengahan atau akhir sesudah kami konsultasi dengan Pak Menko Pangan,” ujar Rosan dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Proyek ini melanjutkan batch pertama yang berjalan sejak November 2025. Pemerintah saat ini menyeleksi sedikitnya tujuh kota berdasarkan kesiapan infrastruktur dan ketersediaan pasokan sampah sebagai bahan baku.
Baca Juga: Lima Perusahaan Tiongkok Lolos Tender Awal WtE Danantara
“Kurang lebih ada tujuh kota, Pak Menko ya. Jadi setelah itu clear di Pak Menko, pemilihan kotanya, kemampuan fasilitas infrastruktur termasuk kesediaan sampah itu baru kemudian diberikan kepada kami untuk dilakukan tender secara terbuka,” jelasnya.
Rosan menilai proyek WTE mendesak karena volume sampah nasional mencapai 60 juta ton per tahun. Sekitar 87% di antaranya belum dikelola dengan baik atau dibakar secara ilegal.
Ia menegaskan program ini tidak semata mengejar produksi listrik, tetapi juga menjadi solusi persoalan lingkungan dan kesehatan publik. Rosan mencontohkan implementasi teknologi serupa di China dan Thailand yang tetap higienis meski berada di area permukiman.
Baca Juga: Danantara Kejar Peringkat Global dari Moody’s dan S&P untuk Akses Pendanaan
“Diharapkan program waste to energy ini mempunyai dampak yang sangat-sangat positif, kita tidak hanya melihat dari energi elektriknya, justru dampak kesehatan, environment, health, actually is more important,” tegasnya.
Sebelumnya, Danantara merilis 24 perusahaan dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT) internasional yang lolos seleksi dan berhak mengikuti tender sebagai Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Dari 24 perusahaan yang lolos fase tender, berikut profil lima perusahaan di antaranya:
- Chongqing Sanfeng Environment (Tiongkok): Spesialis WTE terintegrasi yang memegang lisensi teknologi grate incinerator Jerman. Memiliki rekam jejak di 250 proyek global dengan kapasitas 220.000 ton sampah/hari.
- Wangneng Environment (Tiongkok): Mengelola 98 perusahaan di berbagai negara. Mengklaim mampu menghasilkan 3,04 miliar kWh listrik bersih per tahun dan berencana menggandeng mitra lokal (BUMN/BUMD).
- Zhejiang Weiming Environment Protection (Tiongkok): Pemain lama di Indonesia yang fokus pada ekspor teknologi lingkungan dan penyediaan peralatan insinerator WTE.
- SUS Indonesia Holding (Tiongkok): Afiliasi dari Shanghai SUS Environment. Saat ini sudah membangun fasilitas WTE di Makassar dengan kapasitas 1.300 ton sampah/hari dan output listrik 35 MW.
- PT Jinjiang Environment Indonesia (Tiongkok): Bagian dari Zheneng Jinjiang Group. Sedang mengembangkan proyek WTE di Palembang senilai US$120 juta (Rp1,8 triliun) dengan skema BOO (konsesi 30 tahun).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: