- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Samuel Sekuritas Bicara Soal 'Saham Gorengan', Ini Pola yang Harus Diwaspadai Investor
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Fenomena saham gorengan di pasar modal Indonesia tidak dapat didefinisikan hanya dari mahal atau murahnya harga saham, melainkan dari perilaku harga, likuiditas, dan struktur kepemilikan yang tidak sehat. Hal tersebut disampaikan Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, dalam riset terbarunya mengenai karakteristik saham gorengan di Bursa Efek Indonesia.
“High valuation tidak otomatis berarti saham gorengan. Yang menjadi perhatian utama adalah pola pump and dump, penurunan harga mendadak, dan hilangnya likuiditas,” ujar Harry Su dalam riset tersebut, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Harry menjelaskan bahwa saham gorengan umumnya menunjukkan pergerakan harga ekstrem dalam waktu singkat, tidak sejalan dengan kinerja fundamental emiten. Riset tersebut menegaskan bahwa tren turun jangka panjang akibat tekanan fundamental berbeda dengan saham gorengan berbasis spekulasi jangka pendek.
Dalam risetnya, Harry mencontohkan saham berkapitalisasi besar dengan valuasi premium, termasuk saham perbankan global dan teknologi internasional, yang tetap menjadi konstituen indeks utama dan memiliki likuiditas tinggi. Saham-saham tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai saham gorengan karena didukung fundamental kuat dan partisipasi investor institusional.
Sebaliknya, saham dengan harga rendah maupun menengah dapat tergolong saham gorengan apabila pergerakan harganya menunjukkan pola spekulatif yang ekstrem.
Harry juga mengulas contoh saham yang mengalami penurunan harga jangka panjang, seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), yang terkoreksi masing-masing sekitar 90% dan 79% dalam periode enam hingga tujuh tahun. Menurutnya, pola ini mencerminkan perubahan fundamental dan siklus industri, bukan praktik gorengan.
Hal serupa juga terlihat pada saham konstruksi seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk(WIKA), yang anjlok lebih dari 90% dalam tiga hingga empat tahun akibat tekanan keuangan dan proyek, bukan manipulasi jangka pendek.
Ciri Utama Saham Gorengan
Riset Samuel Sekuritas mengidentifikasi lima karakteristik utama saham gorengan. Pertama, kejatuhan harga mendadak (pump and dump), di mana harga saham bisa turun lebih dari 80% hanya dalam hitungan hari atau minggu setelah lonjakan tajam.
Kedua, penurunan tajam pasca-IPO dalam jangka pendek, dengan koreksi 70%–84% dalam dua hingga delapan bulan sejak pencatatan. Ketiga, hilangnya nilai transaksi secara tiba-tiba, setelah sebelumnya melonjak hingga 300%–1.500%.
Keempat, struktur free float yang ekstrem, baik terlalu rendah sehingga mudah dikendalikan, maupun melonjak drastis misalnya dari sekitar 30% menjadi di atas 90% dalam waktu singkat, yang kerap diikuti tekanan harga lanjutan. Kelima, risiko suspensi dan delisting, setelah saham terkoreksi lebih dari 90% dalam satu hingga dua tahun.
Harry menampilkan sejumlah contoh saham anonim dalam risetnya yang mengalami lonjakan harga dan volume tajam, diikuti penurunan 80%–90% dalam 12 hingga 27 hari perdagangan. Dalam kasus tersebut, likuiditas menghilang segera setelah harga runtuh, meninggalkan investor ritel tanpa exit yang memadai.
“Risiko terbesar saham gorengan adalah investor masuk pada fase akhir reli, ketika likuiditas mulai mengering,” kata Harry.
Harry menegaskan bahwa saham gorengan lebih tepat diidentifikasi dari perilaku pasar, bukan dari harga, sektor, atau valuasi semata. Menurutnya, pola-pola tersebut cenderung berulang dan secara historis menyebabkan kerugian signifikan bagi pelaku pasar, khususnya investor ritel yang tidak memiliki akses informasi dan kecepatan transaksi yang memadai.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: