Pasien Kanker Tak Perlu ke Luar Negeri, dr. Ben Widaja Masuk Daftar FORTUNE Indonesia 40 Under 40 Berkat Inovasi Layanan di RS Mandaya
Kredit Foto: Istimewa
Di usianya yang ke-38 tahun, dr. Benedictus Widaja, MBChB (UK), atau yang akrab disapa dr. Ben Widaja, berhasil membawa angin segar bagi dunia kesehatan Indonesia. Melalui pengembangan pusat kanker komprehensif di Mandaya Royal Hospital Puri, ia membuktikan bahwa layanan kesehatan setara dunia tidak harus dicari hingga ke luar negeri.
Berkat investasinya pada teknologi diagnostik dan terapi mutakhir, serta pembentukan tim dokter multidisiplin yang terdiri dari berbagai subspesialis dan profesor ahli kanker, kiprah dr. Ben mendapatkan pengakuan prestisius dengan masuk dalam daftar FORTUNE Indonesia 40 Under 40.
Memasuki tahun keempat operasional Mandaya, banyak pasien yang semula berencana berobat ke negara tetangga akhirnya membatalkan niat mereka. Mereka mengakui bahwa layanan kanker di dalam negeri, khususnya di Mandaya, tidak kalah mumpuni.
Sejak tahap diagnosis, rumah sakit ini telah menghadirkan teknologi canggih seperti MRI Ambient X, Digital PET CT Scan, serta laboratorium yang mampu melakukan berbagai tes lanjutan, termasuk tes genetik yang masih jarang tersedia di Indonesia.
Untuk terapi, Mandaya dilengkapi dengan Radioterapi Linac Elekta Versa HD dan brakiterapi untuk radiasi akurat, serta berbagai metode modern seperti imunoterapi, ICG Cancer Surgery, dan apheresis untuk kanker darah. Terbaru, metode HIPEC untuk kanker usus besar dan ovarium yang telah menyebar ke rongga perut, serta HIFU untuk membasmi sel tumor di liver dan pankreas, siap melengkapi fasilitas unggulan pusat kanker tersebut.
Latar belakang pendidikan dr. Ben di University of Manchester Medical School, Inggris, serta pengalaman praktik klinisnya di berbagai rumah sakit di bawah naungan NHS, turut membentuk visinya tentang pentingnya sistem tata kelola klinis yang ketat dan budaya mutu yang konsisten.
Sekembalinya ke Indonesia, ia memadukan latar belakang medisnya dengan pengalaman bisnis keluarga di sektor hospitalitas. Visi tersebut diperkuat oleh pengalaman pribadi keluarganya yang sempat menerima pelayanan kurang menyenangkan di rumah sakit lain. Hal ini mendorongnya membangun model rumah sakit dengan pendekatan patient-centered care yang berfokus pada kebutuhan dan kenyamanan pasien.
Masuknya dr. Ben dalam daftar FORTUNE Indonesia 40 Under 40 menandai lahirnya generasi baru pemimpin kesehatan yang mampu menyelaraskan visi klinis, manajemen modern, inovasi teknologi, dan empati kemanusiaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: