Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Peta Perdagangan Sawit Global Bakal Berubah Jika Trump Beri Pengecualian Tarif CPO

Peta Perdagangan Sawit Global Bakal Berubah Jika Trump Beri Pengecualian Tarif CPO Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai kebijakan pengecualian tarif ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia ke Amerika Serikat berpotensi mengubah peta perdagangan global minyak sawit. Kebijakan tersebut dipandang sebagai “tandingan” atas kompleksitas persyaratan ekspor ke Uni Eropa yang selama ini dinilai memberatkan.

“Ini akan menjadi ‘tandingan’ atas kerumitan persyaratan ekspor ke EU,” ujar Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung saat dihubungi Warta Ekonomi, Rabu (18/2/2026).

Menurut Gulat, pengakuan dan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap kebijakan pengecualian tarif untuk CPO Indonesia memiliki efek barometer bagi negara-negara lain. Amerika Serikat merupakan pasar penting, dan kebijakan tersebut diyakini dapat meningkatkan posisi tawar serta citra minyak sawit Indonesia di pasar global.

“Pengakuan Donald Trump ini menjadi barometer negara-negara di dunia dan akan mengubah skema pasar global minyak sawit,” kata dia.

Baca Juga: Saham Emiten Sawit Tancap Gas, Terkerek Efek CPO Lolos Kebijakan Tarif Trump

Selama ini, Indonesia mengekspor sekitar 6 juta ton CPO ke Amerika Serikat setiap tahun. Namun, hanya sekitar 2–2,5 juta ton yang dikirim langsung ke Negeri Paman Sam. Sisanya masuk melalui negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia sebelum kemudian diekspor ulang ke pasar AS.

Dengan skema tarif nol persen serta pemangkasan rantai distribusi yang selama ini lebih panjang, Amerika Serikat berpotensi memperoleh CPO dan produk turunannya dengan harga yang lebih kompetitif.

“Sesungguhnya Indonesia dan AS sama-sama diuntungkan karena AS akan menerima harga CPO atau produk turunannya lebih murah akibat tarif nol persen dan hilangnya rantai pemasaran yang lebih panjang,” jelas Gulat.

Di sisi lain, Gulat menilai penundaan implementasi mandatori biodiesel B50 sebagai langkah yang realistis. Jika kebijakan B50 tetap dipaksakan, produksi CPO nasional dikhawatirkan akan terserap untuk kebutuhan domestik, sehingga peluang ekspor yang terbuka melalui kebijakan tarif nol persen menjadi tidak optimal.

“Seharusnya B50 dan kebijakan Donald Trump bisa dimanfaatkan Indonesia secara bersamaan. Namun, kita harus memilih karena keterbatasan produksi CPO dalam negeri, dengan berbagai persoalan yang dihadapi baik petani sawit maupun korporasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa apabila kebijakan pengecualian tarif tersebut benar-benar terealisasi dalam kerangka kebijakan dagang Amerika Serikat, dampaknya akan bersifat konstruktif bagi industri sawit domestik.

Baca Juga: CPO Dikecualikan dari Tarif AS, Sentimen Saham Emiten Sawit Menguat

Secara psikologis, pasar diperkirakan merespons kebijakan tersebut melalui penguatan harga saham berbasis sawit. Sejumlah emiten bahkan telah mencatatkan apresiasi harga saham dalam beberapa waktu terakhir.

Saham-saham seperti PT Eagle High Plantations Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, PT Dharma Satya Nusantara Tbk, PT Triputra Agro Persada Tbk, serta PT Sumber Tani Agung Resources Tbk dinilai berpotensi memperoleh sentimen positif.

“Kalau secara sentimen, saham-saham terkait seharusnya bisa mendapatkan katalis positif,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: