AS Komit Bebaskan Tarif Minyak Sawit Indonesia, Sadar Permintaan Pasar Terus Naik
Kredit Foto: Sahril Ramadana
Permintaan terhadap minyak sawit di Amerika Serikat diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang, mencerminkan pasar yang semakin bergantung pada impor. Konsumsi minyak sawit di AS diproyeksikan mencapai angka lebih dari 2 juta metrik ton per tahun, menunjukkan pertumbuhan dari periode sebelumnya.
Data terakhir dari USDA menunjukkan impor minyak sawit AS pada periode 2025/26 mencapai sekitar 1,339 juta metrik ton hingga Januari 2026, menegaskan bahwa pangsa impor masih signifikan jika dibandingkan total konsumsi domestik.
Tren ini mencerminkan peran AS sebagai net importer, atau negara yang lebih banyak mengimpor daripada memproduksi minyak sawit sendiri, bisnis yang dominan digunakan dalam industri pangan dan sejumlah produk konsumer lain.
Perkiraan pertumbuhan kebutuhan minyak sawit ini bertepatan dengan komitmen Amerika Serikat untuk memberi pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, termasuk minyak kelapa sawit, kakao, kopi, teh, dan komoditas strategis lainnya. Kebijakan semacam itu dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar AS.
Pengecualian tarif berarti produk tertentu bisa masuk ke pasar AS tanpa dikenai bea masuk, sehingga harga menjadi lebih kompetitif dibanding rival dari negara lain. Ini bukan hanya soal perdagangan bilateral, tetapi bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan permintaan pasar AS yang besar.
Konsumsi minyak sawit di AS sendiri masih dipengaruhi tren global dan dinamika sektor pangan. Menurut laporan pasar, kebutuhan minyak sawit di AS pada 2026 diproyeksikan terus naik seiring meningkatnya permintaan dari sektor makanan olahan, produk konsumen, dan bioenergi.
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, dan selama ini menjadi pemasok utama ke sejumlah pasar global termasuk AS. Dominasi tersebut menjadi modal penting ketika membahas kemungkinan pembebasan tarif dalam perjanjian dagang bilateral.
Momentum ini terjadi bersamaan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke AS, di mana negosiasi tarif perdagangan menjadi salah satu agenda utama. Dalam forum bisnis dan pertemuan bilateral, isu akses pasar dan hambatan tarif menjadi fokus pembicaraan antara pejabat kedua negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: