Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tekstil Indonesia Dapat Tarif 0% dari AS, Target Ekspor Melonjak 10 Kali Lipat

Tekstil Indonesia Dapat Tarif 0% dari AS, Target Ekspor Melonjak 10 Kali Lipat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan signifikan ekspor tekstil dan produk pakaian jadi dalam satu dekade ke depan menyusul kepastian tarif 0% dari Amerika Serikat melalui perjanjian perdagangan timbal balik (Reciprocal Trade Agreement/ART) yang baru saja ditandatangani.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers di KBRI Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu setempat, atau Jumat, 20 Februari 2026 waktu Indonesia, mengungkapkan bahwa salah satu poin krusial dalam perjanjian yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump adalah pemberian tarif nol persen untuk produk tekstil dan apparel Indonesia. 

Berbeda dengan produk industri lain yang langsung mendapatkan pembebasan tarif penuh, sektor tekstil mendapat skema khusus berupa Tariff Rate Quota (TRQ).

"Khusus untuk produk tekstil dan aparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif 0% dengan mekanisme tarif rate kuota atau TRQ," jelas Menko Perekonomian.

Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) selama ini merupakan salah satu andalan ekspor non-migas Indonesia ke pasar global, termasuk Amerika Serikat. Selama ini, ekspor tekstil Indonesia ke AS tercatat di kisaran angka 4 miliar dolar AS per tahun.

Namun, daya saing produk Indonesia kerap terhambat oleh bea masuk yang relatif tinggi dibandingkan pesaing dari negara lain yang telah lebih dulu memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS.

Amerika Serikat sendiri merupakan pasar yang sangat besar dengan nilai impor tekstil mencapai puluhan miliar dolar setiap tahunnya. Dengan populasi dan daya beli yang tinggi, pasar AS disebut sebagai salah satu tujuan ekspor paling potensial di dunia.

Dengan adanya skema tarif 0% ini, pemerintah Indonesia membidik lompatan ekspor yang sangat besar. Target yang dicanangkan adalah peningkatan ekspor sepuluh kali lipat dalam waktu sepuluh tahun ke depan.

"Target kita dengan pembukaan akses ini, kami ingin melakukan ekspansi industri tekstil dari ekspor sekitar 4 miliar dolar menjadi 40 miliar dolar dalam 10 tahun," tegas Menko Perekonomian.

Pencapaian target tersebut diyakini akan memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional, terutama penyerapan tenaga kerja. Sektor tekstil dikenal sebagai industri padat karya yang menyerap banyak buruh.

Pemerintah menyebut kebijakan tarif nol ini akan melindungi dan membuka peluang kerja bagi 4 juta pekerja yang saat ini bergelut di sektor ini. Jika dihitung bersama keluarga, dampaknya diperkirakan menjangkau 20 juta jiwa masyarakat Indonesia.

"Dengan pembukaan pasar AS, menurut kami ini diperlukan untuk industri Indonesia melakukan ekspansi," tambahnya.

Meski mendapat tarif 0%, pemerintah memastikan ada mekanisme pengawasan yang akan dijalankan bersama melalui Council of Trade and Investment yang dibentuk dalam perjanjian ini.

Dewan tersebut akan membahas jika terjadi lonjakan ekspor yang tidak normal atau fluktuasi harga, sehingga perdagangan dapat berjalan adil dan saling menguntungkan.

Baca Juga: Ditukar Sawit, Produk Pertanian Amerika Serikat Bebas Masuk ke Indonesia

Perjanjian ini akan mulai berlaku 90 hari setelah proses hukum di kedua negara, termasuk konsultasi dengan DPR RI, rampung dilakukan.

Dengan kepastian ini, para pelaku industri tekstil dalam negeri diharapkan dapat segera mempersiapkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar AS yang sangat besar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: