Kritik PT Semen Padang, COO Danantara Dony Oskaria: Direksi Harus Punya Visi Jelas
Kredit Foto: Istimewa
Dalam kesempatan itu, Kepala Badan Pengelola BUMN tersebut juga mengulas transformasi BUMN melalui Danantara. Ia mengingatkan bahwa di masa lalu, BUMN berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak ada yang bisa membantu ketika ada yang sakit atau tumbang.
"Krakatau Steel misalnya, hancur karena perusahaan dijalankan tidak dengan hati. Puluhan BUMN yang dulu dikenal hari ini tutup. Pemimpin yang tidak punya visi membiarkan perusahaannya ambruk," sesalnya.
Dony menjelaskan bahwa konsep Danantara sebagai super holding telah lama digagas puluhan tahun lalu, namun baru kini dieksekusi. Dalam struktur ini, Danantara mengelola aset (DAM) dan investasi (DIM). Dengan penyatuan seluruh BUMN, ditemukan banyak entitas dengan core bisnis serupa namun berukuran kecil dan merugi.
Baca Juga: BI Kucurkan Insentif KLM Rp427,5 triliun, Bank BUMN Dapat Jatah Terbesar
Ia mengungkapkan, secara normalisasi laba BUMN sebenarnya bisa mencapai Rp332 triliun pada 2025. Namun, setelah penyesuaian penurunan nilai aset (impairment) sekitar Rp55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp280 triliun hingga Rp285 triliun.
Sejumlah aksi korporasi telah dilakukan Danantara, seperti untuk Garuda Indonesia dan Krakatau Steel. Di sisi lain, Danantara juga meresmikan proyek hilirisasi di 13 lokasi secara serentak dengan total investasi mencapai US$7 miliar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: