Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Lima Tren AI yang Akan Mengubah Dunia Bisnis di Tahun 2026

Lima Tren AI yang Akan Mengubah Dunia Bisnis di Tahun 2026 Kredit Foto: Microsoft Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalam laporan Data Streaming 2025, Confluent mencatat 56% perusahaan di kawasan Asia-Pasifik (APAC) sudah memakai chatbot, copilot, dan asisten AI. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Eropa dan Amerika Utara.

Regional Director Confluent Indonesia, Jemmy Ang, mengatakan bahwa tahun 2025 menjadi masa belajar bagi banyak perusahaan untuk memahami AI. Sementara pada 2026, AI mulai diterapkan lebih luas dalam operasional bisnis. Menurutnya, AI bukan lagi sekadar alat bantu kerja, tetapi mulai menjadi bagian penting dalam proses bisnis.

“Perusahaan yang lebih cepat menyadari perubahan ini akan lebih siap bersaing dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).

Berikut ini adalah beberapa tren penggunaan AI yang diperkirakan muncul pada 2026.

Mesin Akan Jadi Pelanggan

Sebenarnya, selama ini transaksi antarmesin sudah terjadi. Namun, pada 2026, peran mesih akan semakin besar. Agen AI bakal bertindak sebagai “pelanggan” yang mencari produk atau layanan terbaik secara otomatis bagi manusia.

Misalnya, seseorang yang ingin membeli pompa air dengan harga dan kualitas terbaik dari beberapa toko terpercaya cukup meminta agen AI untuk mencarikan pilihan paling sesuai. Artinya, manusia tidak perlu melakukan riset secara manual. Hal tersebut juga bisa terjadi pada pembelian asuransi, pembelian layanan jasa, atau kebutuhan lainnya.

Bakan, AI juga bisa mengelola hal yang lebih kompleks, seperti mengatur rantai pasok, menganalisis pengadaan, atau menyesuaikan kontrak layanan secara otomatis.

Karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan sistem penjualan dan pemasaran. Agen AI bekerja cepat, tidak berpihak pada brand tertentu, dan bisa langsung merekomendasikan jawaban lain jika menemukan opsi yang lebih baik. Perusahaan yang tidak bisa merespons secara real-time berisiko tertinggal.

Context Engineering Jadi Bidang Baru

Seiring makin banyaknya penggunaan sistem multi-agen, perusahaan tidak hanya fokus pada pembuatan perintah (prompt), tetapi juga pada pengelolaan konteks.

Masalahnya, model AI seperti Large Language Model (LLM) punya batas kapasitas konteks. Jika terlalu banyak informasi dimasukkan, sebagian bisa terabaikan atau tidak terbaca dengan baik.

Pada pertengahan 2026, diperkirakan akan muncul bidang baru bernama context engineering. Tim khusus akan bertugas menyiapkan informasi yang ringkas, relevan, dan tepat agar agen AI bisa bekerja maksimal.

Munculnya Mesin Konteks

Jika 2024 banyak membahas Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan 2025 fokus pada agen AI, maka 2026 diprediksi menjadi era “mesin konteks”.

Mesin konteks adalah sistem yang membantu mengatur, menyaring, dan mengoptimalkan informasi sebelum diproses AI. 

Sistem ini menggabungkan layanan data, pengelolaan metadata, dan pengaturan konteks agar AI tetap akurat meski menangani data dalam jumlah besar.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar pengambilan data yang lebih pintar, tetapi lapisan infrastruktur baru untuk mengelola konteks dalam skala besar.

Mendukung Data, Semantik Jadi Infrastruktur Penting

Perusahaan mulai menyadari bahwa AI tidak hanya butuh data, tetapi juga pemahaman tentang arti data tersebut.

Banyak perusahaan sudah punya data lake, tetapi tanpa lapisan semantik, seperti grafik pengetahuan, ontologi, dan metadata, sehingga AI akan kesulitan memahami proses bisnis secara utuh.

Ke depan, persaingan bukan hanya soal siapa punya data paling banyak, tetapi siapa yang bisa mengolah dan memberi makna pada data tersebut. Pada akhir 2026, lapisan semantik diperkirakan akan menjadi sama pentingnya dengan database untuk kebutuhan analitik.

AI Generatif Bantu Modernisasi Sistem Lama

Pada 2026, AI generatif juga diprediksi membantu perusahaan memperbarui sistem lama (legacy system).

Selama ini banyak perusahaan mempertahankan sistem lama dengan menambahkan lapisan baru di atasnya. Cara ini memang lebih aman, tetapi dalam jangka panjang bisa mahal dan membuat perusahaan bergantung pada vendor tertentu.

Meski masih ada tantangan, misalnya dalam membaca bahasa pemrograman lama seperti COBOL, kemampuan AI terus berkembang. Pada 2025, sudah ada sistem lama berbasis JMS yang berhasil diubah menjadi sistem modern berbasis peristiwa dan digunakan dalam operasional.

Tahun 2026 diperkirakan menjadi titik penting percepatan migrasi sistem lama ke sistem yang lebih modern.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: