Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasar Kosmetik Dipredikei Tembus Rp158 Triliun, Tapi Mengapa Produk Riset Lokal Masih di Bawah 1 Persen?

Pasar Kosmetik Dipredikei Tembus Rp158 Triliun, Tapi Mengapa Produk Riset Lokal Masih di Bawah 1 Persen? Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memproyeksikan nilai industri kosmetik nasional akan terus mengalami peningkatan signifikan. Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar bahkan menyebut bahwa nilai tersebut bisa mencapai Rp158 triliun pada tahun 2026.

 “Kalau dibanding tahun sebelumnya, itu naik sekitar 4 sampai 4,7 persen. Tahun 2026 ini kita prediksi bisa mencapai Rp158 triliun,” ujar pada Senin (23/2/2026).

Kepala BPOM juga menegaskan bahwa peningkatan nilai ekonomi ini tidak boleh mengabaikan aspek keamanan serta kualitas produk yang beredar di masyarakat. 

“Konsep peningkatan ini harus dibarengi dengan kontrol keamanan, kontrol efikasi atau khasiat yang baik, dan kontrol kualitas,” tegasnya.

Sebagai bentuk ketegasan, BPOM sebelumnya telah menindak 41 produk bermasalah dan mencabut izin edar bagi 16 produk di antaranya. 

“Kita tidak ingin produk yang sudah sesuai kualitas dan aturan hancur nama baiknya karena ulah pihak yang tidak bertanggung jawab” ungkap Taruna.

Tantangan Riset Ilmiah Bahan Alam

Indonesia sendiri memiliki potensi besar dengan ketersediaan sekitar 31 ribu spesies tanaman yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku kosmetik alami. Namun, kekayaan hayati ini belum dimanfaatkan secara optimal karena mayoritas produk yang beredar masih mengandalkan penggunaan turun-temurun tanpa dukungan data ilmiah.

Taruna mengungkapkan fakta kritis bahwa jumlah produk berbasis herbal yang telah melalui riset ilmiah masih sangat minim. 

“Yang sudah berbasis riset dan penelitian itu baru sekitar 71 sampai 90-an produk. Artinya masih kurang dari satu persen dari total 20 ribu lebih izin edar,” katanya.

Lebih lanjut, untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, BPOM mendorong penuh pendirian pusat inovasi yang mampu mempercepat pengujian praklinis hingga uji klinis bagi produk lokal. Standardisasi ini sangat krusial agar produk herbal Indonesia bisa naik kelas dan mendapatkan kepercayaan dari konsumen internasional.

Baca Juga: Strategi Pinkflash Pulihkan Kepercayaan Pasar di Tengah Pertumbuhan Industri Kosmetik Nasional

Target jangka panjang pemerintah adalah meningkatkan porsi produk berbasis riset secara bertahap hingga menyentuh angka 20 persen di masa depan. 

“Mudah-mudahan suatu saat bisa 10 persen, bahkan 20 persen. Kalau ini bergerak, efeknya seperti bola salju, akan berkembang dan menginspirasi industri lain untuk berbasis riset,” tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: