Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Reformasi Pasar Modal jadi Kunci Turunkan Risiko Investasi

Reformasi Pasar Modal jadi Kunci Turunkan Risiko Investasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Arah dan kualitas pasar modal memiliki implikasi penting tidak hanya bagi pelaku pasar, tetapi juga bagi suatu negara. Sebab, kondisi pasar modal turut menentukan nilai kompetitif dan kredibilitas suatu negara di mata investor global.

Di Indonesia, salah satu isu krusial yang menjadi perhatian investor adalah tingkat free float saham. Diketahui, pasar dengan free float terbatas cenderung memiliki likuiditas rendah, volatilitas tidak mencerminkan fundamental, serta risiko konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Rendahnya free float menurunkan tingkat investability suatu pasar karena menyulitkan proses masuk dan keluar investasi dalam skala besar.

Oleh karena itu, langkah-langkah reformasi yang tengah ditempuh di pasar modal Indonesia patut diapresiasi sebagai upaya memperkuat fondasi iklim investasi jangka panjang.

“Kebijakan peningkatan free float merupakan langkah struktural yang sangat penting. Likuiditas yang lebih baik akan memperkuat mekanisme pembentukan harga yang sehat dan meningkatkan kepercayaan investor jangka panjang,” ujar Syaiful Adrian, CFA, Direktur Utama PT Kredit Rating Indonesia.

Menurutnya, free float yang lebih memadai akan memperbaiki mekanisme price discovery, meningkatkan likuiditas, serta memperluas basis investor. Dalam jangka panjang, pasar modal yang likuid dan efisien akan lebih menarik bagi dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer investasi global yang memiliki mandat investasi jangka panjang dan berbasis risiko terukur.

Selain free float, transparansi Ultimate Beneficial Owner (UBO) merupakan aspek reformasi yang tidak kalah penting. Investor global tidak hanya menilai potensi imbal hasil, tetapi juga memperhitungkan risiko non-finansial seperti tata kelola, kepatuhan, dan reputasi. Struktur kepemilikan yang tidak jelas atau terlalu kompleks kerap dipersepsikan sebagai sumber risiko tambahan, bahkan ketika kinerja keuangan perusahaan terlihat baik.

“Transparansi kepemilikan adalah fondasi tata kelola yang kuat. Dengan kejelasan mengenai siapa pengendali sebenarnya dari suatu entitas, pasar menjadi lebih transparan dan risiko asimetri informasi dapat ditekan secara signifikan,” tambah Syaiful.

Reformasi ini juga perlu dipandang dalam kerangka yang lebih luas, yakni upaya membangun pasar modal yang sehat, dalam, dan berkelanjutan. Pasar modal yang dangkal dan tidak transparan cenderung meningkatkan risk premium suatu negara karena investor menuntut kompensasi atas risiko yang sulit diukur. Sebaliknya, pasar modal yang dalam dan kredibel akan menurunkan persepsi risiko secara keseluruhan, bukan hanya bagi investor pasar modal, tetapi juga bagi investor langsung dan pemberi pinjaman internasional.

“Pasar modal yang kuat bukan hanya mendukung investor, tetapi juga memperkuat struktur pembiayaan nasional. Ketika akses pendanaan jangka panjang semakin luas dan efisien, dunia usaha dapat tumbuh lebih berkelanjutan tanpa ketergantungan berlebihan pada satu sumber pembiayaan,” jelasnya.

Tentu, reformasi pasar modal bukan tanpa tantangan. Implementasi yang konsisten, kepastian regulasi, serta komunikasi yang jelas kepada pelaku pasar akan menjadi faktor penentu keberhasilan. Reformasi yang baik di atas kertas harus diikuti oleh eksekusi yang kredibel agar tidak menimbulkan ketidakpastian baru.

Baca Juga: OJK Beri Sanksi ke Influencer Pasar Modal Belvin Tannadi Rp5,35 Miliar, Ini Perbuatannya

“Konsistensi implementasi menjadi kunci. Reformasi yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan akan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang semakin kompetitif di tingkat regional maupun global,” tutup Syaiful.

Pada akhirnya, pasar modal yang sehat bukanlah tujuan akhir, melainkan alat strategis untuk menurunkan risiko investasi, memperluas akses pembiayaan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: