Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sektor Energi dan Konsumen Jadi Pilihan Investor Saham Syariah di BEI

Sektor Energi dan Konsumen Jadi Pilihan Investor Saham Syariah di BEI Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sektor energi dan barang konsumen mendominasi pangsa pasar saham syariah di Tanah Air selama 2025. 

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah, Irwan Abdalloh mengatakan dari sisi jumlah saham, sektor barang konsumen non-primer memegang kendali dengan pangsa sebesar 18%. Angka ini menjadikan sektor tersebut yang paling dominan di antara total saham syariah yang tercatat di bursa.

"Kemudian yang kedua itu barang konsumen premier. Kemudian barang baku, energi, dan properti itu lima besarnya. Semuanya di atas 10%," ujar dia dalam diskusi Pasar Modal Syariah: Menuju 15 Tahun Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia, Kamis (26/2/2026).

Namun, peta kekuatan berubah jika dilihat dari kapitalisasi pasar (market cap). Sektor energi justru merangsek naik menjadi yang terbesar. Diikuti oleh sektor barang baku, infrastruktur, barang konsumen primer, serta properti dan real estat.

"Jadi ini pertanyaan cukup menarik. Jadi kalau ada yang nanya, kalau saya mau investasi syariah berinvestasi dari size-nya, maka ada lima sektor industri terbesarnya," kata dia.

Sebelumnya, Irwan menuturkan mengatakan jumlah investor syariah sepanjang 2025 tembus 217.157 atau meningkat 28% secara year on year atau tahunan. Adapun nilai transaksi pada tahun lalu mencapai Rp11,2 triliun.

"Pertama, jumlah investor. Pencapaian kita di 2025 itu merupakan penambahan paling tinggi selama 15 tahun kebangkitan pasar modal syariah Indonesia dari sejak tahun 2011," terang dia dalam diskusi Pasar Modal Syariah: Menuju 15 Tahun Kebangkitan Pasar Modal Syariah Indonesia, Kamis (26/2/2026).

Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas keterlibatan investor sepanjang tahun lalu juga meningkat tajam. Investor aktif tercatat sebanyak 43.135 atau tumbuh sebesar 34% secara tahunan (year-on-year) dengan frekuensi transaksi 30,6 miliar saham.

"Yang aktifnya juga demikian, tumbuh 34% kalau kita patokannya year-on-year. Demikian juga dengan kinerja transaksi," jelas dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: