Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Beda Data dari China, Dugaan Praktik Impor Tekstil Ilegal Jadi Sorotan Indonesia

Beda Data dari China, Dugaan Praktik Impor Tekstil Ilegal Jadi Sorotan Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perbedaan tajam antara data ekspor China dan impor Indonesia menjadi sorotan pemerintah. Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkap selisih besar tersebut terutama terjadi pada komoditas tekstil, pakaian jadi dan alas kaki.

Menurutnya, angka impor yang tercatat di dalam negeri jauh lebih kecil dibandingkan data ekspor yang dilaporkan China untuk produk serupa. Selisih itu dinilai mengindikasikan adanya barang masuk yang tidak tercatat secara resmi.

Baca Juga: Sadisnya Perang Harga Mobil di China, Mobil dari Hampir Rp600 Jutaan Didiskon Jadi 350 Juta!

“Yang jadi masalah ini adalah barang-barang impor ilegal yang masuk, yang tidak terdata. Itu yang disebut Pak Presiden sebagai under invoicing. Data impor kita tercatat 100, tapi dari China ekspornya 900. Artinya ada 800 yang tidak tercatat, membanjiri produk domestik kita,” ujarnya dalam diskusi Forum Wartawan UMKM di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Maman menilai kondisi tersebut berdampak langsung pada pasar dalam negeri. Produk impor murah yang membanjiri pasar membuat pelaku UMKM kesulitan bersaing dari sisi harga dan distribusi.

Data UNTrade 2025 yang diolah Kementerian UMKM menunjukkan pola selisih signifikan pada berbagai kode HS tekstil dan turunannya. Perbandingan tersebut memperlihatkan ekspor China konsisten lebih tinggi dibandingkan angka impor Indonesia.

Pada komoditas hijab dan syal (HS 6214), ekspor China sepanjang 2013–2024 tercatat selalu melampaui angka impor Indonesia. Tahun 2024, ekspor China mencapai sekitar US$9 juta, sedangkan impor Indonesia hanya US$0,6 juta.

Untuk pakaian bayi (HS 6111), ekspor China pada 2024 tercatat US$4,2 juta. Sementara itu, angka impor Indonesia berada di level US$2,7 juta pada periode yang sama.

Kesenjangan juga terlihat pada produk korset dan bra (HS 6212). Data menunjukkan ekspor China mencapai US$83,2 juta, sedangkan impor Indonesia tercatat US$28,8 juta.

Pada pakaian dalam wanita (HS 6108), ekspor China sebesar US$48,5 juta berbanding US$13,9 juta impor Indonesia. Untuk celana dalam pria (HS 6107), ekspor China tercatat US$6,2 juta dan impor Indonesia US$4,6 juta.

Produk alas kaki berbahan kain (HS 6404) juga menunjukkan selisih yang lebar. Tahun 2024, ekspor China mencapai US$157,2 juta, sementara impor Indonesia tercatat US$112,4 juta.

Perbedaan signifikan tampak pada komoditas kaus (HS 6109) dengan ekspor China US$61,7 juta dan impor Indonesia US$20,4 juta. Celana dan jas pria (HS 6203) pun mencatat ekspor US$30 juta, sedangkan impor Indonesia hanya US$8,2 juta.

Untuk gamis dan rok wanita (HS 6204), ekspor China mencapai US$74,2 juta. Di sisi lain, impor Indonesia tercatat US$16,8 juta pada tahun yang sama.

Maman menyebut situasi pasar domestik saat ini sebagai “kotor” karena dipenuhi barang impor murah, termasuk yang masuk secara ilegal. Kondisi tersebut dinilai menghambat efektivitas berbagai program penguatan UMKM seperti pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelatihan, dan fasilitasi produksi.

Ia menegaskan perlunya kebijakan yang lebih terukur dalam mengelola arus impor. “Seharusnya kalau produk sudah bisa kita produksi, ya dibatasi impor. Tapi kalau yang belum bisa, tidak masalah impor,” ujar Maman menegaskan.

Baca Juga: Kemenperin Fokus Tingkatkan Kapasitas dan Ekspor Perhiasan Indonesia

Pemerintah saat ini terus mengkaji langkah penguatan pengawasan impor untuk menjaga keseimbangan pasar. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan ruang kompetisi yang lebih adil bagi pelaku UMKM dalam negeri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: