Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik AS-Iran Picu Risk Off, Rupiah dan IHSG Tertekan

Konflik AS-Iran Picu Risk Off, Rupiah dan IHSG Tertekan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Eskalasi konflik geopolitik akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu sentimen risk off di pasar keuangan global, yang berdampak langsung pada nilai tukar rupiah hingga pasar saham domestik.

Pada perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah dibuka melemah 0,38 persen ke level Rp16.834 per dolar Amerika Serikat (AS).

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan bahwa di tengah sentimen global tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp16.785–17.002 per dolar AS.

“Di tengah sentimen global tersebut, kami memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp16.785–17.002 per USD pada perdagangan hari ini,” kata Andry, yang akrab disapa Asmo, di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan. Peso Filipina tercatat turun 0,62 persen, sementara dolar Taiwan melemah 0,46 persen.

Tekanan turut terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,65 persen ke level 8.099 pada sesi perdagangan pagi. Sektor barang konsumsi nonprimer menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 4,54 persen, diikuti sektor infrastruktur yang turun 3,43 persen.

Penurunan IHSG kali ini bahkan lebih dalam dibandingkan koreksi 1,15 persen yang terjadi saat serangan Israel terhadap Iran pada April 2024.

“Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi, kenaikan inflasi global, serta pergeseran arus modal keluar dari emerging market, yang berdampak pada penguatan USD dan tekanan pada sektor finansial serta saham berorientasi ekspor,” urainya.

Baca Juga: BI Jaga Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran dan Gejolak Pasar Global

Baca Juga: Bos BEI Minta Investor Tetap Rasional di Tengah Eskalasi Geopolitik Global

Baca Juga: Ketegangan AS–Israel vs Iran Memanas, RI Imbau WNI di Timur Tengah

Lebih lanjut, Asmo menyampaikan bahwa indeks dolar AS (Dollar Index/DXY) tercatat naik 0,21 persen ke level 97,82. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan berada di kisaran 6,40–6,50 persen.

“Ke depan, pasar masih berpotensi bergerak fluktuatif hingga ketidakpastian geopolitik mereda,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: