Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Iran Memanas, Rusia Gandeng China di Forum IAEA

Konflik Iran Memanas, Rusia Gandeng China di Forum IAEA Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini merambah ke jalur diplomasi internasional. Rusia menyatakan akan terus mengoordinasikan langkah bersama Iran dan China di forum Badan Energi Atom Internasional.

Pernyataan itu disampaikan Perwakilan Tetap Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov. Ia berbicara usai pertemuan khusus Dewan Gubernur International Atomic Energy Agency (IAEA)  yang digelar menyusul serangan militer terhadap Iran.

Konflik terbaru dipicu operasi militer besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan sejumlah fasilitas di Iran. Serangan tersebut diklaim berkaitan dengan dugaan ancaman rudal dan program nuklir Teheran.

Eskalasi itu memicu respons keras dari Iran dan meningkatkan kekhawatiran global soal stabilitas kawasan Timur Tengah. Isu keselamatan fasilitas nuklir pun menjadi perhatian utama komunitas internasional.

Rusia mendorong pembahasan khusus di IAEA. Moskow menilai situasi yang berkembang tidak bisa disamakan dengan agenda rutin lembaga tersebut.

“Jika diperlukan, bersama pihak China dan Iran kami akan memikirkan langkah-langkah potensial selanjutnya,” ujarnya kepada wartawan setelah pertemuan khusus Dewan Gubernur IAEA yang diprakarsai Rusia menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, ketika ditanya apakah ada langkah bersama dengan pihak Iran dan China yang direncanakan untuk menyelesaikan konflik.

Pertemuan itu digelar atas prakarsa Rusia setelah Iran mengusulkan pembahasan darurat. Namun secara prosedural, Iran tidak dapat memanggil pertemuan Dewan Gubernur karena bukan anggota badan tersebut.

“Kami baru saja mengadakan pertemuan khusus hari ini. Gagasan itu diusulkan oleh pihak Iran, tetapi mereka tidak dapat memanggil pertemuan semacam itu karena mereka bukan anggota Dewan Gubernur.

Itulah sebabnya kami memberikan bantuan persahabatan dengan mengirimkan nota kepada Sekretariat IAEA untuk meminta diadakannya pertemuan. Pertemuan itu berlangsung selama tiga jam pagi ini. Opsi alternatifnya adalah membahas isu Iran dalam sesi reguler yang telah lama dijadwalkan untuk minggu ini,” jelas dikutip dari kantor berita TASS.

Ulyanov menegaskan bahwa Rusia menilai pembahasan terpisah lebih tepat. Menurutnya, agresi berskala besar terhadap Iran tidak semestinya dilebur dalam agenda reguler yang sudah terjadwal.

“Namun kami menilai tidak tepat membahas agresi berskala besar terhadap Iran bersamaan dengan agenda rutin. Keputusan untuk mengadakan pertemuan khusus sepenuhnya dapat dibenarkan.”

Langkah ini memperlihatkan posisi Moskow yang aktif dalam isu nuklir Iran. Rusia dan China selama ini dikenal mendorong pendekatan diplomasi dalam menyelesaikan sengketa program nuklir Teheran.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel menegaskan tindakan militernya bertujuan mencegah ancaman keamanan yang lebih luas. Perbedaan pendekatan ini mempertegas polarisasi di antara kekuatan besar dunia.

IAEA sendiri berperan sebagai lembaga pengawas aktivitas nuklir sipil di berbagai negara. Setiap eskalasi yang melibatkan fasilitas nuklir menjadi perhatian serius karena berpotensi berdampak lintas batas.

Baca Juga: Pakar Pertahanan Bongkar Peta Militer Iran vs AS-Israel, Siapa yang Paling Sanggup Bernapas Panjang?

Koordinasi Rusia, Iran, dan China di forum tersebut membuka kemungkinan langkah diplomatik lanjutan. Namun arah penyelesaian konflik masih bergantung pada dinamika politik dan keamanan di lapangan.

Dengan situasi yang terus berkembang, jalur diplomasi menjadi salah satu arena utama meredakan ketegangan. Pertemuan khusus di IAEA menandai upaya awal untuk mengalihkan konflik dari medan militer ke meja perundingan internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: