Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ukraina Kembangkan Drone Interceptor Jarak Jauh, Mampu Hantam Target Ribuan Km di Rusia

Ukraina Kembangkan Drone Interceptor Jarak Jauh, Mampu Hantam Target Ribuan Km di Rusia Kredit Foto: Unsplash/Ian Usher
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ukraina mengembangkan drone interceptor yang dapat dikendalikan dari jarak jauh dan mampu menghantam target hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Inovasi ini menjadi bagian dari strategi baru untuk memperkuat pertahanan udara di tengah perang melawan Rusia.

Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan negaranya hampir tidak memiliki kapasitas produksi drone saat invasi besar dimulai oleh Rusia. Namun kini pihaknya telah memiliki industri drone yang berkembang pesat.

Baca Juga: Zelensky Bimbang, Perang Iran Bisa Ganggu Pasokan Senjata Amerika Serikat ke Ukraina

"Kami meluncurkan level baru pertahanan udara ‘kecil’. Sekarang, pengendalian interceptor dapat dilakukan dari jarak ribuan kilometer," kata Fedorov.

"Hari ini kami memiliki hasil yang terkonfirmasi, menjatuhkan target pada jarak ratusan hingga ribuan kilometer. Ukraina adalah yang pertama di dunia yang secara sistematis mengembangkan kendali jarak jauh untuk drone interceptor," tambahnya.

Fedorov menilai penggunaan drone interceptor lebih efektif dan ekonomis dibandingkan sistem pertahanan konvensional. Teknologi ini juga mengurangi risiko bagi operator karena dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Ukraina memperkirakan produksi drone domestik mencapai sekitar 4,5 juta unit tahun lalu dan terus meningkat. Hal ini menjadi kunci dalam menghadapi serangan intensif yang masih berlangsung dari Rusia.

Meski pertahanan meningkat, mereka tetap menghadapi gelombang serangan besar dari Rusia. Dalam salah satu serangan terbesar pekan lalu, 17 orang tewas meski sebagian besar rudal dan drone berhasil ditembak jatuh.

Ukraina juga menjalin kerja sama produksi senjata dengan sejumlah negara dari Eropa. Kyiv di sisi lain menawarkan bantuan teknologi kepada negara-negara Timur Tengah dalam menghadapi drone Iran. Kesepakatan kerja sama telah dicapai dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Pengembangan drone interceptor jarak jauh menandai evolusi baru dalam peperangan modern. Teknologi ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di medan perang sekaligus menjadi model bagi negara lain.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Ukraina mengumumkan penerapan model operasi militer baru yang mengintegrasikan penggunaan drone dengan pasukan infanteri. Strategi ini disebut sebagai pendekatan baru dalam menghadapi pasukan dari Rusia.

Panglima Militer Ukraina, Oleksandr Syrskyi, menyatakan bahwa pasukannya berhasil merebut kembali hampir 50 km² wilayah dari Rusia sepanjang Maret. Sejak awal tahun, total wilayah yang berhasil direbut kembali mencapai sekitar 480 km².

“Pendekatan ini telah membuahkan hasil di Ukraina Selatan. Sejak Februari, banyak wilayah yang telah dibebaskan, tepatnya berkat penggunaan unit-unit canggih ini,” katanya.

Dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, drone kini memainkan peran utama di kedua pihak. Strategi Ukraina mencakup unit serangan drone khusus, integrasi sistem udara dan darat tanpa awak hingga koordinasi langsung dengan pasukan infanteri.

“Model peperangan baru sedang diperkenalkan, yaitu unit penyerangan drone yang menggabungkan sistem tak berawak udara dan darat dengan infanteri menjadi satu sistem terpadu,” katanya.

Meski ada kemajuan, pertempuran tetap intens di berbagai wilayah, terutama di sekitar kota dari Pokrovsk, Oleksandrivka, Kostiantynivka dan Lyman. Wilayah tersebut menjadi titik terpanas pertempuran sepanjang bulan dari Maret.

Syrskyi juga menyebut bahwa pasukan musuh meningkatkan operasi ofensif di hampir seluruh garis depan sepanjang 1.200 km. Hal tersebut dibalas pihaknya dengan meningkatkan serangan terhadap target strategis dari Rusia.

Baca Juga: Gegara Kebijakan Trump, Supporter Berisiko Ditahan Amerika Serikat Saat Piala Dunia 2026

Kiev terus menargetnya fasilitas militer, industri pertahanan hingga kilang minyak dan infrastruktur energi dari Moskow. Sepanjang Maret, Ukraina mengklaim menyerang 76 target, termasuk 15 fasilitas kilang minyak. Serangan terhadap infrastruktur energi sendiri bertujuan untuk mengurangi pendapatan ekspor dan melemahkan kemampuan perang dari Moskow. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: