Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat komunikasi dengan penyedia indeks global guna menjaga daya saing dan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor internasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengungkapkan OJK tidak hanya berkomunikasi dengan MSCI, tetapi juga membuka dialog intensif dengan FTSE Russell sepanjang Februari 2026.
“Kita sudah melakukan komunikasi tidak hanya dengan MSCI. Kita tahu tuntutan ini bukan tuntutan spesifik dari indeks provider global, tapi harus kita hadirkan semua,” ujar Hasan dalam acara Economic Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (2/3/2026).
Sepanjang Februari, OJK tercatat menggelar sedikitnya empat kali pertemuan dengan kedua penyedia indeks tersebut. Pertemuan dilakukan di berbagai level, mulai dari pimpinan, analis, hingga teknis. Pertemuan terakhir digelar pekan lalu untuk memaparkan perkembangan terbaru atas respons dan proposal yang diajukan regulator Indonesia.
“Kami bisa menyatakan bahwa ruang komunikasi kami lakukan terbuka dan konstruktif, bahkan sampai ke tingkat teknis. Kita ingin memastikan apa yang kita jadikan respons proposal solusi itu betul-betul dapat mereka terima pada akhirnya,” jelasnya.
Hasan menyebut terdapat empat proposal utama yang disepakati sebagai bagian dari reformasi pasar saham Indonesia. Pertama, peningkatan transparansi data kepemilikan saham perusahaan terbuka.
Baca Juga: Melihat Prospek dan Arah Pasar Modal Pasca Peringatan MSCI dan Moody's
Baca Juga: Pemerintah Dinilai Abai Terhadap Peringatan Ekonom, Baru Respons Setelah Sorotan MSCI & Moody's
Baca Juga: Di Balik MSCI, Ekonom Ungkap Masalah Besar Pasar Modal Indonesia
Kedua, penurunan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham investor besar dari di atas 5% menjadi di atas 1%. Ketiga, peningkatan ketentuan minimum free float secara bertahap dari 7,5% menuju 15%.
Keempat, penguatan pengawasan terhadap potensi konsentrasi kepemilikan saham pada perusahaan terbuka guna menjaga struktur kepemilikan yang sehat dan transparan.
“Mereka dapat menerima seluruh proposal kita,” pungkas Hasan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri