China Temukan Kelemahan Sistem Pertahanan Rudal AS Saat Hadapi Rudal Hipersonik Modern di Timur Tengah
Kredit Foto: Getty Image/AFP
Studi ilmiah terbaru dari China mengungkapkan bahwa sistem pertahanan rudal Amerika Serikat, yang selama ini dipandang sebagai yang paling canggih di dunia, menyimpan kelemahan dalam menghadapi ancaman rudal hipersonik modern.
Melansir Aerospace Global News, temuan ini muncul di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, di mana sejumlah rudal Iran dilaporkan berhasil menembus pertahanan udara Amerika Serikat dan Israel.
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Liao Longwen dari Northwest Institute of Nuclear Technology ini dipublikasikan dalam jurnal Tactical Missile Technology, terbit pada 7 Maret 2026.
Dalam studinya, tim peneliti menganalisis secara mendalam cara kerja sistem pertahanan berlapis milik Amerika Serikat, mulai dari fase tengah hingga fase terminal penerbangan rudal.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan antara spesifikasi di atas kertas dan praktik di lapangan. Para peneliti menemukan kelemahan pada setiap lapisan pertahanan AS.
Sistem Aegis dengan pendetak SM-3, yang dirancang untuk menghancurkan rudal balistik di luar atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 kilometer, menghadapi masalah serius ketika berhadapan dengan rudal hipersonik.
Panas ekstrem yang dihasilkan rudal hipersonik saat memasuki atmosfer ternyata dapat mengganggu, bahkan "membutakan", sensor inframerah pada pendetak. Akibatnya, target menjadi sulit dilacak secara akurat.
Sementara itu, sistem pertahanan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), yang beroperasi pada ketinggian 40 hingga 100 kilometer, disebut kesulitan menghadapi rudal yang meluncur pada ketinggian lebih rendah atau melakukan manuver tak terduga. Pada lapisan ini, sistem juga berpotensi terkecoh oleh umpan yang dilepaskan rudal penyerang.
Pada lapisan pertahanan terakhir, Amerika Serikat mengandalkan sistem Patriot PAC-3 MSE untuk pertahanan jarak dekat. Namun, sistem ini menghadapi kendala kecepatan reaksi yang sangat sempit. Untuk menghancurkan rudal yang menukik tajam dengan kecepatan hipersonik, pendetak harus memiliki percepatan dua hingga tiga kali lebih tinggi dari targetnya. Hal ini dinilai sangat sulit dicapai jika rudal lawan melaju dengan kecepatan di atas Mach 6.
Temuan akademis ini dianggap sesuai dengan kejadian di lapangan setelah munculnya sejumlah rekaman serangan rudal Iran beberapa hari lalu. Dalam video yang beredar, rudal Iran terlihat menembus sistem pertahanan udara Israel dan AS di atas Tel Aviv sebelum menghantam target militer bernilai tinggi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis, 5 Maret 2026, mengklaim bahwa dalam putaran ke-14 operasi True Promise, rudal hipersonik mereka berhasil menembus sistem pertahanan buatan Amerika Serikat. Serangan tersebut dilaporkan menghantam gedung Kementerian Pertahanan Israel serta area Bandara Internasional Ben Gurion di dekat Tel Aviv.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: