Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah Nyaris Sentuh Rp17.000
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 67 poin atau berada di level Rp16.960 pada perdagangan Jumat (13/3/2026), dari sebelumnya Rp16.893 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi karena pasar menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara.
“Realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada Februari 2026,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Ibrahim menuturkan pembayaran bunga utang tersebut setara dengan 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8 persen jika dibandingkan dengan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu.
Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar, kata Ibrahim, menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia dengan pemerintah serta tensi geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).
Dari faktor eksternal, pelemahan mata uang Garuda juga dipicu lonjakan harga minyak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur perairan sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.893 per Dolar AS
Baca Juga: Baht Anjlok 1,6 Persen, Rupiah Hanya 0,3 Persen! Menkeu Purbaya Minta Publik Nilai Secara Adil
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Rp16.886 Efek Perang di Selat Hormuz & Outlook Negatif Moody’s-Fitch
“Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujarnya.
Para pelaku pasar dan analis khawatir lonjakan harga minyak yang signifikan akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent crude oil berjangka, yang menjadi patokan global, terakhir diperdagangkan di kisaran 100 dolar AS per barel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: