Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pelemahan Rupiah hingga Rp17.500 Bayangi Tiga Skenario Terburuk Anggaran Negara Tahun 2026

Pelemahan Rupiah hingga Rp17.500 Bayangi Tiga Skenario Terburuk Anggaran Negara Tahun 2026 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah menyiapkan skenario untuk menaikkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di atas ambang batas 3 persen. Langkah ini merespons lonjakan harga minyak mentah Indonesia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan tiga skenario kenaikan defisit tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna. Faktor utama yang memengaruhi perhitungan ini adalah pergerakan harga minyak dunia serta imbal hasil surat utang negara.

Skenario pertama memprediksi harga minyak berada di angka US$ 86 per barel dengan nilai tukar Rp 17.000 per dolar AS. Pada kondisi ini defisit APBN diperkirakan akan mencapai angka 3,18 persen terhadap PDB.

Airlangga menyebut asumsi pertumbuhan ekonomi tetap dijaga pada level 5,3 persen untuk skenario awal tersebut. "Maka defisitnya adalah 3,18 persen," jelas Airlangga di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).

Skenario kedua atau moderat memprediksi harga minyak dapat meningkat hingga menyentuh US$ 97 per barel. Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah ke posisi Rp 17.300 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen.

Defisit anggaran pada skenario moderat ini berpotensi melebar hingga mencapai angka 3,53 persen terhadap PDB. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh naiknya imbal hasil surat utang negara menjadi 7,2 persen.

Skenario ketiga merupakan skenario terburuk dengan asumsi harga minyak melonjak drastis hingga US$ 115 per barel. Nilai tukar rupiah diproyeksikan terdepresiasi semakin dalam menuju angka Rp 17.500 per dolar AS.

Defisit APBN pada skenario pesimis ini berpotensi meningkat tajam hingga menyentuh angka 4,06 persen. Angka tersebut melampaui batas aman yang selama ini ditetapkan dalam aturan perundang-undangan keuangan negara.

Baca Juga: Nasib APBN Indonesia di Tengah Konflik Iran vs AS-Israel

Airlangga menegaskan bahwa target defisit di bawah 3 persen akan sangat sulit untuk dipertahankan saat ini. Pemerintah harus mempertimbangkan opsi pemangkasan belanja negara jika ingin tetap menjaga ambang batas tersebut.

Opsi lainnya adalah menurunkan target pertumbuhan ekonomi nasional untuk menekan beban anggaran negara secara keseluruhan. "Nah ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," tutur Airlangga kepada Presiden.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat