Kredit Foto: BPMI
Ia juga menyoroti pentingnya sense of urgency dalam pengambilan keputusan nasional. Menurutnya, langkah strategis tidak boleh tertunda hanya karena pertimbangan politik jangka pendek.
"Sense of urgency berarti kita tidak boleh lagi menunda langkah besar hanya karena pertimbangan politik jangka pendek," tambahnya.
Pembahasan dalam pertemuan tersebut turut menyinggung peran historis Indonesia di tingkat global. Referensi terhadap Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok menjadi bagian dari refleksi arah kebijakan luar negeri.
Sutisna menilai politik luar negeri bebas aktif harus dimaknai sebagai sikap aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Pendekatan tersebut juga dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika global.
"Politik bebas aktif bukan sikap diam, melainkan sikap aktif membela perdamaian, kedaulatan bangsa-bangsa kecil, dan tata dunia yang lebih adil," kata Sutisna.
Baca Juga: Ngamuk Soal Penyiraman Aktivis KontraS, Prabowo: Ini Adalah Terorisme!
Ia menambahkan pertemuan kedua tokoh mencerminkan nilai gotong royong dalam kehidupan berbangsa. Dialog antar pemimpin dinilai menjadi salah satu cara menjaga kohesi nasional.
Forum Intelektual Muda juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan di tengah situasi global yang tidak menentu. Upaya tersebut dinilai penting agar fokus pembangunan nasional tidak terganggu oleh perpecahan internal.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: