BRIN Peringatkan Super El Nino 2026 Ancam Ketahanan Pangan, Kemarau Ekstrem hingga Oktober
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi kemunculan fenomena super El Nino atau Godzilla El Nino yang diprediksi terjadi mulai April 2026 dan berisiko memperpanjang musim kemarau hingga Oktober, sehingga mengancam ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah sentra produksi padi.
Informasi tersebut menyebut fenomena ini sebagai anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator dengan intensitas kuat.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin, meminta pemerintah mewaspadai dampak kekeringan, terutama di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa yang merupakan lumbung pangan nasional.
“Munculnya variasi kuat El Nino ini akan menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi jauh lebih kering,” demikian disampaikan dalam keterangan resmi, dikutip Senin (23/3/2026).
BRIN mencatat bahwa fenomena ini akan diperkuat oleh kemunculan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi menekan pembentukan awan di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan menurun signifikan.
Pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa menjadi indikator utama IOD positif, yang berkontribusi pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan proyeksi model iklim BRIN, dampak awal akan dirasakan di wilayah selatan Indonesia, termasuk Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, yang diperkirakan mengalami kemarau sangat kering sepanjang April hingga Oktober 2026.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen di wilayah sentra produksi padi akibat keterbatasan pasokan air. Oleh karena itu, pengelolaan distribusi air irigasi dinilai menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Selain sektor pertanian, BRIN juga mengingatkan potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra dan Kalimantan akibat kondisi kering berkepanjangan.
Di sisi lain, anomali iklim ini tidak berdampak merata. Wilayah seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru diperkirakan mengalami curah hujan yang relatif tinggi selama periode kemarau, yang berpotensi memicu banjir dan longsor.
BRIN menekankan perlunya strategi mitigasi berbasis wilayah, mengingat perbedaan karakteristik dampak antar daerah.
Baca Juga: Lebaran, Jakarta Bakal Dilanda Cuaca Panas Terik?
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca Saat Mudik Lebaran
Baca Juga: Banjir Sumatra Dipicu Cuaca Ekstrem di Atas Standar Mitigasi
Selain risiko, kondisi kemarau panjang juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi garam nasional, terutama di wilayah selatan Indonesia yang memiliki potensi optimal selama periode kering.
Dalam menghadapi potensi dampak luas fenomena ini, BRIN mendorong penguatan koordinasi lintas sektor, terutama dalam pengelolaan sumber daya air, mitigasi bencana, dan perlindungan sektor pertanian.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: