Kredit Foto: PLN
Tren kendaraan listrik di Indonesia semakin berkembang pesat, kini, berbagai merek mobil listrik sudah tersedia dengan beragam pilihan, masing-masing menawarkan keunggulan seperti jarak tempuh yang lebih jauh dan waktu pengisian daya yang semakin cepat.
Namun, dengan beralih ke mobil listrik, perlu juga beradaptasi dengan rutinitas baru, yakni mengecas baterai. Jika sebelumnya pengguna mobil konvensional terbiasa mengisi bahan bakar di SPBU, kini pemilik mobil listrik perlu mulai membiasakan diri mengisi daya, bisa di rumah maupun di stasiun pengisian umum.
Meski kelihatannya berbeda, tapi proses ini lebih praktis karena bisa dilakukan di rumah, kamu cukup mengecas pada malam dan keesokan paginya mobil sudah siap melaju.
Cara Kerja Pengisian Baterai Mobil Listrik
Pengisian baterai mobil listrik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mengisi daya perangkat elektronik, tetapi dengan skala yang jauh lebih besar dan sistem yang lebih kompleks. Intinya, listrik dari sumber daya dialirkan ke baterai kendaraan dan disimpan sebagai energi untuk menggerakkan motor listrik.
Saat mobil dicolokkan ke listrik rumah atau SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), listrik yang masuk berupa arus AC (bolak-balik). Namun, karena baterai mobil hanya bisa menyimpan arus DC (searah), ada komponen di dalam mobil bernama on-board charger (OBC) atau semacam adaptor yang bertugas mengubah arus AC menjadi DC.
Jenis Charger Mobil Listrik
Di Indonesia, charger mobil listrik secara umum dibagi menjadi dua jenis utama. Perbedaannya terletak pada kecepatan pengisian dan posisi di mana biasanya digunakan.
1. AC Charging
AC charging adalah metode pengisian yang paling umum digunakan, terutama di rumah.
Ciri-ciri:
- Menggunakan listrik rumah (PLN)
- Daya relatif kecil (biasanya 2.200–7.700 watt)
- Waktu pengisian lebih lama
Contoh di Indonesia:
Pemilik mobil listrik biasanya memasang home charging di rumah. Misalnya, pemilik mobil listrik biasanya mengisi daya semalaman (overnight charging) agar siap digunakan keesokan hari.
Kelebihan:
- Lebih aman untuk baterai dalam jangka panjang
- Biaya listrik lebih murah
- Praktis untuk penggunaan harian
Kekurangan:
- Waktu pengisian cukup lama
2. DC Fast Charging
DC fast charging digunakan untuk pengisian cepat, biasanya tersedia di SPKLU.
Ciri-ciri:
- Daya besar (bisa di atas 50 kW)
- Mengisi langsung ke baterai tanpa melalui OBC
- Waktu pengisian jauh lebih singkat
Contoh di Indonesia:
SPKLU di rest area tol Trans Jawa atau pusat perbelanjaan di Jakarta, Bandung, hingga Surabaya sudah menyediakan fasilitas ini. Pengguna Hyundai Ioniq 5, misalnya, bisa mengisi dari 20% ke 80% dalam waktu sekitar 20–30 menit.
Kelebihan:
- Sangat cepat
- Cocok untuk perjalanan jauh (mudik, antar kota)
Kekurangan:
- Lebih mahal
- Jika terlalu sering digunakan, bisa mempercepat degradasi baterai
Waktu Terbaik untuk Mengisi Daya
Banyak pengguna mobil listrik di Indonesia sudah membuktikan bahwa waktu paling ideal untuk mengecas adalah pada malam hari saat kendaraan beristirahat di garasi.
Selain lebih santai, PLN juga memberikan insentif khusus berupa diskon tarif listrik (biasanya sekitar 30%) bagi pemilik mobil listrik yang melakukan pengisian daya pada pukul 22.00 hingga 05.00 waktu setempat.
Selain menghemat biaya operasional bulanan, mengisi daya di malam hari juga membantu menjaga keseimbangan beban listrik karena pada jam tersebut beban pemakaian listrik rumah tangga secara umum sedang turun.
Kesalahan Umum Saat Charging
Dalam praktiknya, masih banyak orang punya kebiasaan keliru yang kerap dilakukan oleh pengguna baru, diantaranya:
- Menunggu Baterai Benar-Benar Habis (0%): Baterai lithium-ion pada mobil modern justru bisa cepat aus jika sering dibiarkan sampai drop total.
- Selalu Mengecas hingga 100% Tiap Hari: Kecuali Anda menggunakan baterai berjenis LFP (seperti pada beberapa model Wuling atau BYD yang memang disarankan dicas penuh sesekali), mengecas baterai lithium-ion biasa (NMC) hingga mentok 100% setiap hari dapat memperpendek umur sel baterai karena tegangan tinggi yang terus-menerus.
- Menggunakan Kabel Ekstensi Sembarangan: Saat darurat dan harus menggunakan portable charger, hindari menggunakan kabel roll atau sambungan kabel biasa yang kabelnya tipis. Tarikan daya yang besar secara konstan bisa membuat kabel biasa meleleh dan memicu korsleting.
Berapa Lama Idealnya Mengisi Baterai?
Pabrikan otomotif dan pakar baterai umumnya merekomendasikan durasi waktu yang pas yakni menjaga kapasitas baterai di rentang 20% hingga 80% untuk pemakaian harian.
Mengapa berhenti di 80%? Saat baterai mobil dicas menggunakan DC Fast Charging, arus akan masuk sangat cepat dari 20% ke 80%. Namun, setelah menyentuh angka 80%, sistem manajemen baterai (BMS) pada mobil akan secara otomatis memperlambat arus yang masuk. Ini dilakukan untuk melindungi sel baterai dari overheating dan degradasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat