Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Ikut Terseret! Obligasi Negara Berkembang Merugi Gara-Gara Perang Iran

Indonesia Ikut Terseret! Obligasi Negara Berkembang Merugi Gara-Gara Perang Iran Kredit Foto: Pexels
Warta Ekonomi, Jakarta -

Obligasi mata uang lokal negara berkembang (emerging markets/EM) mencatat kerugian lebih dari 4,5% sejak pecahnya konflik Iran, seiring lonjakan harga energi dan perubahan ekspektasi inflasi global yang mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman.

Tekanan tersebut terjadi setelah sebelumnya pasar obligasi EM ditopang oleh pelemahan dolar AS, inflasi yang melambat, serta ekspektasi penurunan suku bunga. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah mengubah arah sentimen menjadi risk-off, yang berdampak signifikan pada aset berisiko.

“Obligasi mata uang lokal EM, tidak mengherankan, menjadi korban utama dari lingkungan risk-off saat ini,” ujar Thierry Larose, portfolio manager di Vontobel Asset Management, mengutip Bloomberg, Senin (23/3/2026).

“Lonjakan tajam harga minyak dan gas telah mengubah ekspektasi inflasi global dan meningkatkan volatilitas pada aset ini.”

Data menunjukkan hanya 6 dari 22 mata uang utama negara berkembang yang menguat terhadap dolar AS tahun ini, turun drastis dibandingkan 17 mata uang sebelum konflik terjadi.

Tekanan juga tercermin pada kinerja obligasi di sejumlah negara. Obligasi Afrika Selatan dan Hungaria mencatat kerugian sekitar 10% sepanjang bulan ini, dipicu pelemahan mata uang domestik. Sementara itu, pasar obligasi di Meksiko dan Indonesia masih mencari titik keseimbangan baru di tengah volatilitas.

Kondisi ini mendorong bank sentral di berbagai negara berkembang untuk menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan guna meredam tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Di sisi global, Federal Reserve memperingatkan risiko inflasi dapat menghambat penurunan suku bunga, sementara pejabat Bank Sentral Eropa menyatakan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga tercermin di pasar uang. Hingga 19 Maret, pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga lebih dari 60 basis poin di negara berkembang dalam 12 bulan ke depan, berbalik dari proyeksi awal bulan yang memperkirakan penurunan 25 basis poin.

Sejumlah investor mulai menyesuaikan strategi portofolio. Vontobel mengurangi eksposur pada mata uang berisiko tinggi di Amerika Latin serta Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika, dan beralih ke aset Asia seperti won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang dinilai lebih stabil.

Di sisi lain, Invesco memilih pendekatan selektif dengan fokus pada peluang nilai relatif, khususnya di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Sementara itu, Pimco melihat peluang mulai muncul di tenor panjang obligasi di Brasil, Afrika Selatan, dan Republik Ceko.

“Kurva imbal hasil kemungkinan sudah mencerminkan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari yang sebenarnya akan terjadi,” ujar Yacov Arnopolin, manajer portofolio senior di Pimco.

Di tengah tekanan global, beberapa pasar masih menunjukkan ketahanan. Obligasi lokal Kolombia mencatat kenaikan 3,6% karena pasar sebelumnya telah mengantisipasi kenaikan suku bunga. Selain itu, mata uang negara eksportir komoditas seperti real Brasil dan peso Kolombia tetap menguat, didukung tingkat suku bunga tinggi.

Baca Juga: Pasar Obligasi Bergairah, Emisi Surat Utang 2026 Capai Rp28,71 T

Baca Juga: Moody’s Tetapkan Peringkat Baa2 untuk Obligasi Global Indonesia

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.800 Usai Moody's Beri Peringkat Positif Obligasi RI

Namun, tekanan tetap meluas ke aset lain. Obligasi dolar negara berkembang, baik pemerintah maupun korporasi, tercatat turun setidaknya 1,7% dalam tiga minggu terakhir.

Pelaku pasar menilai volatilitas masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring ketidakpastian geopolitik dan aliran dana keluar dari aset berisiko.

“Volatilitas kemungkinan akan berlanjut dalam jangka pendek karena kelas aset ini mengalami arus keluar dana jangka pendek,” ujar Lupin Rahman, spesialis utang negara berkembang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: