Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Sebut Sedang Ada Negosiasi dengan Iran, Ketua Parlemen: Tak Ada Negosiasi Tanpa Persetujuan Mojtaba Khamenei

Trump Sebut Sedang Ada Negosiasi dengan Iran, Ketua Parlemen: Tak Ada Negosiasi Tanpa Persetujuan Mojtaba Khamenei Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Para pemimpin Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah keras adanya negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur listrik Iran selama lima hari.

Trump mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah melangsungkan "pembicaraan yang sangat baik dan produktif" demi mengakhiri perang.

Pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa utusannya sedang berdialog dengan seorang pejabat tinggi Iran.

Meski Trump enggan menyebutkan nama pejabat tersebut, sejumlah media di Israel dan AS melaporkan bahwa Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, tengah bernegosiasi dengan Ghalibaf.

Laman Al Jazeera menyebut di dalam sistem pemerintahan Iran, setiap negosiasi dengan AS baru dianggap sah dan memiliki legitimasi jika mendapat persetujuan langsung dari Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, beserta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Pada Sabtu lalu, Trump mengeluarkan ultimatum selama 48 jam kepada Iran untuk segera membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, atau AS akan menggempur pembangkit listrik Iran.

Sebagai balasan, Iran menyatakan akan menyerang fasilitas energi dan air milik Israel serta kawasan Teluk. Ghalibaf bahkan turut mengancam perusahaan-perusahaan pemegang obligasi di Departemen Keuangan AS (US Treasury bonds).

Namun, pada hari Senin, Trump melalui unggahannya di platform Truth Social menyebutkan bahwa Washington dan Teheran telah mengadakan "pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian menyeluruh atas permusuhan kita di Timur Tengah".

Ia pun memerintahkan pasukan AS untuk menahan serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari. Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Iran menolak klaim negosiasi tersebut. Para pejabat Iran menuding penundaan serangan itu hanyalah taktik Trump untuk menenangkan pasar energi.

"Kami sedang berurusan dengan sosok yang menurut saya paling dihormati, tapi bukan Pemimpin Tertinggi. Kami belum mendengar kabar darinya," ujar Trump kepada wartawan, Senin.

Trump mengaku enggan mengungkap identitas pemimpin Iran tersebut karena tidak ingin membahayakan nyawanya. Namun, situs berita AS Axios dan Politico, serta beberapa publikasi Israel, serempak melaporkan bahwa Witkoff dan Kushner telah menjalin komunikasi dengan Ghalibaf.

Menanggapi hal ini, Ghalibaf pada hari Senin menegaskan lewat unggahan di X (sebelumnya Twitter):

"Tidak ada negosiasi dengan AS. Berita palsu sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta sebagai upaya melarikan diri dari rawa kehancuran tempat AS dan Israel terjebak."

Sementara itu, ekonom Nader Habibi menilai negosiasi merupakan skenario yang masuk akal mengingat semakin besarnya tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang. Namun, mereka tetap berhati-hati dalam memprediksi tingkat keberhasilannya.

"Saya memperkirakan kemungkinan terjadinya pembicaraan berada di angka 60 persen," kata Nader dikutip.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat