Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Australia Siapkan Kebijakan Darurat Minyak, Dampak Perang Iran-Amerika Serikat

Australia Siapkan Kebijakan Darurat Minyak, Dampak Perang Iran-Amerika Serikat Kredit Foto: Pixabay/jdblack
Warta Ekonomi, Jakarta -

Australia mempertimbangkan untuk mengaktifkan kebijakan darurat guna menjaga pasokan minyak domestik. Hal ini menyusul kekhawatiran potensi kekurangan energi selama musim dingin akibat konflik dari Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menteri Sumber Daya Australia, Madeleine King mengatakan pemerintah tengah mempertimbangkan penggunaan mekanisme dari Australian Domestic Gas Security Mechanism. Kebijakan ini memungkinkan pemerintah memaksa eksportir minyak untuk memprioritaskan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri sebelum memenuhi kontrak ekspor.

Baca Juga: Hubungi Trump, Australia Mulai Pertanyakan Tujuan Perang Iran-Amerika Serikat

"Warga Australia akan menjadi prioritas dalam pasokan energi selama periode gangguan yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah," kata King.

Keputusan terkait kebijakan tersebut diperkirakan akan diambil bulan depan setelah konsultasi dengan produsen minyak utama. Jika disetujui, diharapkan negara tidak akan kekurangan energi selama musim dingin.

Melalui mekanisme terkait, eksportir diwajibkan menawarkan minyak yang belum terikat kontrak ke pasar domestik terlebih dahulu. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan memastikan harga minyak, atau bensin dalam hal ini, bagi konsumen dalam negeri tidak lebih tinggi dibandingkan pembeli luar negeri.

King menegaskan bahwa warganya akan menjadi prioritas utama selama periode gangguan pasokan energi global. Langkah ini diambil setelah otoritas persaingan usaha memperingatkan bahwa pasokan bensin grosir dalam wilayah pantai timur berpotensi mengetat selama musim dingin.

Permintaan energi yang meningkat saat suhu rendah berisiko memperparah kondisi jika pasokan global terus terganggu. Meski mempertimbangkan kebijakan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa tetap berkomitmen memenuhi kewajiban ekspor energi.

ADGSM juga disebut tidak otomatis membatasi ekspor, melainkan memastikan keseimbangan antara kebutuhan domestik dan internasional. Ia muncul akibat meningkatnya tekanan pada pasar energi global akibat konflik dari Iran dan Amerika Serikat.

Diketahui, Washington menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan rezim yang lebih rasional di Iran. Namun memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan besar.

Ia mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

Serangan tersebut jika terealisasi, berpotensi akan menyebakan kenaikan harga minyak lanjutan. Ia akan berdampak terhadap inflasi, logistik hingga pangan dunia. 

Baca Juga: Dampak Perang Iran, Harga Bensin Sampai Tembus Rp68.000 di Amerika Serikat

Australia dalam bersiap mengambil langkah preventif untuk menjaga ketahanan energi domestik di tengah ketidakpastian global. Dengan Timur Tengah yang masih panas, tekanan terhadap pasar energi diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu dekat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait:

Advertisement