Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IRGC Klaim Serang Oracle Dubai, Otoritas Setempat Membantahnya! Siapa yang Bisa Dipercaya?

IRGC Klaim Serang Oracle Dubai, Otoritas Setempat Membantahnya! Siapa yang Bisa Dipercaya? Kredit Foto: Reuters/Lisi Niesner
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah perang yang kian meluas ke ranah digital, sebuah klaim dan bantahan dalam waktu kurang dari 24 jam mencerminkan realitas baru konflik modern: kebenaran di medan perang kini sama sulitnya untuk diverifikasi, seperti rudal yang melesat di malam hari.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pada Kamis (2/4/2026), mereka menyerang dan menghancurkan pusat data Oracle di Dubai, Uni Emirat Arab.

Pernyataan itu disertai konteks yang tegas: serangan ini adalah balasan atas "pembunuhan" warga Iran, dan merupakan aksi pertama IRGC yang secara eksplisit menyasar infrastruktur teknologi perusahaan AS dan Israel di kawasan.

Namun sehari berselang, Kantor Media Dubai langsung membantah melalui unggahan di platform X, menyebut laporan tentang serangan tersebut tidak benar.

Dua klaim yang saling bertolak belakang ini bukan sekadar soal benar atau salah, keduanya mencerminkan kepentingan yang sangat berbeda.

Dubai tidak mau dianggap sebagai medan perang.

Sebagai hub bisnis dan keuangan global, reputasi Dubai sebagai zona aman bagi investasi dan operasional korporasi multinasional adalah aset terbesar kota itu.

Mengakui infrastruktur teknologi kelas dunia di wilayahnya bisa ditembus serangan militer Iran, akan menghancurkan reputasi itu dalam semalam.

Di sisi lain, IRGC punya kepentingan propaganda yang sama kuatnya untuk mengeklaim keberhasilan serangan terhadap perusahaan teknologi AS bergengsi.

Yang lebih solid faktanya adalah serangan ke Amazon di Bahrain.

Berbeda dari klaim Oracle Dubai yang langsung dibantah, serangan ke pusat komputasi awan Amazon di Bahrain telah dikonfirmasi oleh berbagai sumber independen, termasuk Financial Times.

Amazon Web Services mengonfirmasi adanya kerusakan struktural, gangguan daya, kebakaran, dan kerusakan akibat sistem pemadam air di fasilitas tersebut.

Serangan ke infrastruktur digital ini bukan muncul tiba-tiba.

IRGC sebelumnya sudah menetapkan 18 perusahaan teknologi AS sebagai "target sah", termasuk Microsoft, Google, Apple, Meta, Nvidia, Oracle, Cisco, Intel, IBM, Dell, Palantir, JPMorgan, Tesla, GE, dan Boeing, dengan peringatan kepada karyawan perusahaan-perusahaan itu untuk segera mengosongkan kantor mereka.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah negara secara sengaja menjadikan pusat data cloud komersial sebagai target serangan militer.

Para ahli menilai data center sangat rentan karena ukurannya besar, strukturnya relatif rapuh, dan tidak memiliki pertahanan udara khusus seperti instalasi militer.

Kerentanan itulah yang membuat klaim IRGC, benar atau tidak, tetap menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh perusahaan teknologi global yang beroperasi di kawasan.

Bagi dunia bisnis, pelajaran dari situasi ini sudah jelas.

Amazon Web Services bahkan sudah memperingatkan klien untuk memindahkan beban kerja ke region lain, jauh sebelum serangan terkonfirmasi, sebuah langkah yang kini terbukti tepat, mengingat gangguan layanan yang dialami sejumlah bank dan platform keuangan besar di kawasan Teluk.

Baca Juga: Perang Iran-AS Bergeser: Air, Energi, hingga Data Kini Tak Lagi Aman

Di era perang ini, klaim dan bantahan sama-sama berbiaya tinggi.

Bagi perusahaan yang datanya tersimpan di kawasan konflik, tidak ada pilihan aman selain bersiap untuk skenario terburuk, terlepas dari versi mana yang benar. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Yaspen Martinus

Tag Terkait:

Advertisement