Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ultimatum Amerika Serikat Sudah Final, Trump Janji Buat Neraka di Iran

Ultimatum Amerika Serikat Sudah Final, Trump Janji Buat Neraka di Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memperpanjang deadline terkait dengan proposal damai guna meredakan ketegangan dengan Iran. Pihaknya menegaskan bahwa batas waktu kali ini adalah final.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa tenggat waktu yang diberikan kepada musuhnya untuk mencapai kesepakatan damai bersifat final dan kecil kemungkinan diperpanjang. Iran menurutnya telah diberikan waktu yang cukup, termasuk tambahan dari permintaan sebelumnya.

Baca Juga: Ekonomi Dunia Bergejolak, Rusia Salahkan Trump: Konsekuensi Serangan Amerika Serikat ke Iran

"Sangat tidak mungkin. Mereka punya banyak waktu. Bahkan, mereka meminta tujuh hari. Saya bilang, saya akan memberi kalian 10 hari. Tapi setelah sepuluh hari, akan terjadi kekacauan besar hingga "neraka" jika kalian tidak sampai di sana," katanya.

Pejabat Amerika Serikat diketahui masih melakukan negosiasi tidak langsung dengan Iran. Hal tersebut dilakukan melalui mediator Pakistan. AS menuntut negara terkait untuk menghentikan program senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz

Trump menegaskan bahwa pihaknya siap melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam waktu dekat dengan Iran.

Ancaman ini disampaikan menjelang tenggat waktu yang telah ditetapkan, yakni pada Selasa 20.00. Ia menuntut negara terkait untuk menghentikan program senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz. 

Trump menyebut bahwa tim perwakilan dalam negosiasi saat ini dinilai lebih rasional dibandingkan kelompok sebelumnya yang telah tewas dalam serangan udara yang dilancarkannya ke Iran. Menurutnya, hal ini membuka peluang bagi tercapainya kesepakatan, meskipun waktu yang tersisa semakin terbatas.

"Kami pikir mereka sebenarnya lebih pintar," katanya.

Adapun Trump menyebut bahwa jika keputusan sepenuhnya berada di tangannya, pihaknya dapat mengambil alih minyak dari Iran. Namun, ia mengakui bahwa langkah tersebut kemungkinan tidak akan diterima oleh publik dari Amerika Serikat.

Diketahui, Iran telah menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pihaknya menyampaikan penolakan atas hal tersebut, khususnya terkait dengan gancatan senjata di Timur Tengah.

Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour menyatakan bahwa gencatan senjata tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan menerima penghentian perang secara permanen dengan jaminan tidak akan diserang kembali oleh Israel dan Amerika Serikat.

Iran juga mengajukan sejumlah syarat utama yang dituangkan dalam sekitar sepuluh klausul, di antaranya adalah penghentian konflik dalam seluruh kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, program rekonstruksi pascakonflik hingga protokol keamanan untuk pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Meski Kejahatan Perang, Amerika Serikat Tak Akan Segan Bombardir Infrastruktur Sipil di Iran

Dengan batas waktu yang semakin dekat dan posisi kedua pihak yang masih berbeda, situasi kini memasuki fase krusial. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, ancaman eskalasi konflik semakin besar, dengan potensi dampak luas terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement