Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Jauh dari Perkiraan US$300/Barel,' Amerika Santai Hadapi Ledakan Harga Minyak Akibat Perang Iran

'Jauh dari Perkiraan US$300/Barel,' Amerika Santai Hadapi Ledakan Harga Minyak Akibat Perang Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menepis kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran akan memicu krisis energi global dan ledakan harga minyak yang tidak terkendali.

Menurut Trump, kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan terburuk yang sempat beredar di pasar.

Baca Juga: 'Itu Sudah Selesai,' Trump Klaim Amerika Serikat Capai Kesuksesan Besar Lawan Iran

“Hari ini saya melihat harga minyak US$96 per barel. Banyak orang mengira harganya akan mencapai US$300 per barel,” kata Trump, dikutip dari Fox News, Sabtu (6/6).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Gedung Putih belum menganggap lonjakan harga energi sebagai ancaman serius meskipun konflik dengan Iran telah mengguncang pasar minyak dunia selama beberapa bulan terakhir.

Trump menilai kondisi saat ini justru membuktikan bahwa pasar energi mampu bertahan lebih baik dibanding perkiraan banyak pihak.

“Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk,” ujarnya.

Kepercayaan diri Trump didasarkan pada besarnya cadangan energi yang dimiliki Amerika Serikat. Ia menegaskan negaranya memiliki sumber daya minyak, gas, dan batu bara yang melimpah sehingga mampu menghadapi gejolak pasokan global.

“Kami memiliki lebih banyak minyak, gas, batu bara, dan sumber energi lainnya dibanding negara mana pun di dunia,” kata Trump.

Komentar tersebut muncul ketika harga minyak dunia bergerak mendekati level US$95 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sejumlah analis sebelumnya memperingatkan harga bisa menembus US$100 per barel jika ketegangan kembali meningkat.

Meski demikian, Trump menegaskan Amerika memiliki banyak alternatif untuk menjaga pasokan energi domestik dan mengurangi dampak gejolak pasar internasional.

Baca Juga: 'Kepentingan Kami Tak Sejalan,' Iran Kehilangan Sekutu di Timur Tengah Gegara Perang Melawan Amerika

Dengan kata lain, selama harga minyak masih berada di kisaran US$96 per barel, Gedung Putih tampaknya belum melihat alasan untuk mengubah pendekatan kerasnya terhadap Iran.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar