Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Warta Ekonomi Gelar IDIA 2026: Dorong Inovasi Digital dan Daya Saing Industri

Warta Ekonomi Gelar IDIA 2026: Dorong Inovasi Digital dan Daya Saing Industri Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Warta Ekonomi menyelenggarakan ajang penghargaan Indonesia Digital Innovation Awards (IDIA) 2026 bertema Driving Industrial Competitiveness Through Impactful Digital Innovation.

Ajang ini menjadi bentuk apresiasi kepada perusahaan nasional yang dinilai berhasil mengintegrasikan inovasi digital guna meningkatkan daya saing industri serta memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

CEO Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, menyampaikan ekonomi digital Indonesia tidak terlepas dari peran strategis industri sebagai penggerak transformasi digital nasional. Dengan jumlah penduduk mencapai 285,72 juta jiwa (40,9% populasi ASEAN) dan penetrasi internet sebesar 80,6% pada 2025, Indonesia memiliki basis pasar digital yang besar.

“Skala ini menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai konsumen teknologi, tetapi juga sebagai ruang utama pengembangan model bisnis digital yang mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing industri,” kata Ihsan dalam sambutannya di Parle, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Sejalan dengan IDIA 2026, Warta Ekonomi melakukan penilaian berbasis data melalui desk research dan media monitoring untuk memastikan setiap inovasi memiliki implementasi nyata, dampak terukur, serta relevansi strategis terhadap transformasi digital.

Penilaian mengacu pada lima aspek utama. Pertama, Digital Innovation Excellence, yang menunjukkan mayoritas perusahaan telah melakukan inovasi digital dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 40% perusahaan tercatat memanfaatkan teknologi digital, dengan 81 perusahaan (55,48%) menunjukkan implementasi yang teridentifikasi secara jelas.

“Namun demikian, masih terdapat 10,17% perusahaan yang belum menunjukkan adanya inovasi digital dalam periode tersebut, menandakan adanya kesenjangan dalam adopsi dan implementasi transformasi digital di tingkat industri,” ujarnya.

Aspek kedua, Business Impact & Inclusive Growth, menunjukkan mayoritas perusahaan telah menghadirkan dampak nyata terhadap kinerja bisnis dan pertumbuhan inklusif. Sebanyak 88,36% perusahaan (129 perusahaan) tidak hanya memperluas layanan, tetapi juga menyediakan pelatihan dan/atau layanan digital bagi masyarakat.

Sementara itu, 10,9% perusahaan baru berkontribusi pada salah satu aspek saja. “Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dampak inovasi digital sudah cukup luas, tingkat kedalaman kontribusi terhadap inklusi masih belum merata,” kata Ihsan.

Aspek ketiga, Digital Governance, Risk & Security, menunjukkan 78,8% perusahaan (115 perusahaan) telah menerapkan tata kelola digital secara komprehensif, mencakup perlindungan data, manajemen risiko, dan kepatuhan regulasi. Sebanyak 20% lainnya masih berada pada tahap parsial.

Selanjutnya, aspek Digital Sustainability & ESG Impact menunjukkan 74,5% perusahaan (111 perusahaan) telah mengintegrasikan keberlanjutan melalui green IT atau digitalisasi untuk menekan jejak karbon. Namun, 23,5% perusahaan belum menunjukkan inisiatif tersebut.

Aspek terakhir, Digital Brand Trust & Reputation, menunjukkan mayoritas perusahaan telah memanfaatkan kanal digital untuk membangun reputasi, meski kualitasnya masih bervariasi. Sentimen pemberitaan didominasi netral (115 perusahaan), sementara 31 perusahaan memperoleh sentimen positif.

Di media sosial, hampir seluruh perusahaan memanfaatkan Instagram, dengan 143 perusahaan berada pada kategori performa B+ hingga A-, dan hanya 3 perusahaan yang belum optimal.

“Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran digital sudah luas, namun penguatan kualitas engagement dan persepsi publik masih menjadi ruang peningkatan,” kata Ihsan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri