- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Tumbuh 7 Persen di Q1, Rosan Ungkap Strategi 'Pemanis' di Balik Investasi Rp497 T
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan, realisasi investasi pada triwulan pertama (Q1) tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp497 triliun.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 7 persen secara tahunan (tahun ke tahun).
Hal tersebut disampaikan Rosan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku optimis target kuartalan tersebut akan tercapai sepenuhnya, saat data final dirilis dalam waktu dekat.
“Alhamdulillah memang kita masih menunggu sampai tanggal 15."
"Tetapi dengan perkembangan ini insyaallah target yang dicanangkan oleh pemerintah pada triwulan pertama ini bisa kami capai, yaitu sebesar Rp497 triliun."
"Berarti tumbuh sekitar 7% secara tahunan,” ungkap Rosan.
Rosan menjelaskan, pencapaian ini merupakan langkah awal untuk mencapai target investasi tahunan 2026 yang telah disesuaikan menjadi Rp2.041,3 triliun, berdasarkan Perpres 117/2025.
Ia juga mengisyaratkan visi jangka panjang pemerintah untuk mencapai akumulasi investasi yang jauh lebih besar.
“Jadi angkanya (target 2026) adalah 2.041, tetapi memang di puncaknya tetap target nantinya adalah 13.000 triliun,” tambahnya.
Selain nilai modal, investasi pada kuartal ini diperkirakan menyerap 627.000 tenaga kerja, atau naik 5,5 persen.
Sektor hilirisasi tetap menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 30 persen dari total investasi.
Kepastian Hukum dan Kebijakan 'Fiktif Positif'
Di tengah kondisi geopolitik global, Rosan menekankan stabilitas politik dan keamanan menjadi alasan investor utama tetap melirik Indonesia.
Namun, ia mengakui faktor pelanggaran integritas terus diperbaiki melalui sistem Pengajuan Tunggal Online(OSS).
Rosan memaparkan, penerapan PP Nomor 28 memberikan terobosan berupa kebijakan “fiktif positif” untuk mengatasi kelambatan perizinan di kementerian lain.
"Selama ini... Service Level Agreement-nya itu, misal izin masuk kami, kemudian kami berikan ke kementerian A itu jangka waktunya 20 hari, mereka tidak berespons."
"Nah, sekarang jika mereka sudah setuju dengan kami 20 hari, 20 hari mereka tidak berespons ke kami sama sekali, otomatis izinnya bisa saya keluarkan," beber Rosan.
Berkat mekanisme otomatis ini, Kementerian Investasi telah mengeluarkan sekitar 258 izin yang sebelumnya tertahan di kementerian teknis.
Kebijakan ini diklaim memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha.
Mengenai pengembangan sistem OSS, Rosan melaporkan anggaran yang sempat tertunda selama setahun kini telah disetujui untuk mulai dicairkan.
Hal ini memungkinkan integrasi otomatis penuh dengan 18 kementerian, menggunakan teknologi AI danblockchain.
Baca Juga: Rosan Ungkap Investasi US$1,4 Miliar untuk Bangun Pabrik Panel Surya di Indonesia
“Sistem yang baru ini kita tentunya akan menggunakan AI, blockchain, dan yang lain-lainnya, dan di tahun ini akan bisa mulai berjalan,” tuturnya.
Data pencatatan gairah investasi tetap tinggi, dibuktikan dengan pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) sebanyak 1,8 juta dalam lima bulan terakhir (Oktober 2025 hingga April 2026), sehingga total NIB kini mencapai 15,8 juta. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: