Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Investasi Rp40,6 T Inalum Teradang Isu Energi dan Lahan, Inalum Minta Dukungan DPR

Investasi Rp40,6 T Inalum Teradang Isu Energi dan Lahan, Inalum Minta Dukungan DPR Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menargetkan eksekusi proyek Smelter Aluminium 2 Mempawah senilai US$2,42 miliar atau setara Rp40,6 triliun dapat segera dimulai pada tahun ini. Namun, kepastian pasokan energi listrik sebesar 1,2 gigawatt (GW) dan penyelesaian lahan menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan proyek strategis nasional tersebut.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menjelaskan bahwa proyek ini merupakan langkah transformasi krusial untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium perusahaan secara signifikan. Saat ini, Inalum tengah memfinalisasi dokumen Bankable Feasibility Study (BFS) dan Front-End Engineering Design (FEED) yang ditargetkan rampung pada kuartal II/2026.

"(Isu utama yakni) kepastian energi di energi jangka panjang melalui pembangunan dan penggunaan PLTU selama 30 tahun," ujar Melati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).

Melati menekankan bahwa industri aluminium sangat bergantung pada ketersediaan energi yang stabil (energy intensive). Dalam skema bisnis yang disusun, Inalum merencanakan pembangunan pembangkit listrik mandiri (Independent Power Producer/IPP) dengan kapasitas terpasang mencapai ± 1,2 GW. Saat ini, perusahaan tengah melakukan review komersial kerja sama Power Solution bersama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan MIND ID.

"Tentunya kami harapkan sinergi antara Inalum, PLN dan pihak terkait dalam hal ini PTBA bisa diwujudkan karena salah satu keberhasilan dari project smelter Mempawah itu adalah captive dari PLTU untuk smelter aluminium," imbuhnya.

Kendala Lahan

Selain aspek energi, tantangan utama yang dihadapi Inalum di lapangan adalah pembebasan lahan. Berdasarkan data perusahaan, dari total kebutuhan 110 hektare (ha) untuk area Smelter 2, lahan yang telah dibebaskan baru mencapai 48 ha. Sementara itu, untuk pembangunan infrastruktur pembangkit listrik, diperlukan tambahan lahan seluas 100 ha.

Secara teknis, Smelter 2 Mempawah yang telah di  groundbreaking pada 6 Februari 2026 lalu ini akan menggunakan teknologi asal Tiongkok dengan kapasitas produksi 600.000 ton per tahun (kilo tonne per annum/ktpa). Tambahan kapasitas ini akan mendongkrak total produksi Inalum dari saat ini 275.000 ton menjadi 900.000 ton per tahun.

Dari sisi finansial, proyek ini dirancang dengan tingkat pengembalian internal (internal rate of return/IRR) sebesar 13,19%. Inalum mengadopsi skema pendanaan yang terdiri atas 60% utang (debt) dan 40% ekuitas.

Proyek yang diperkirakan akan menyerap 1.370 tenaga kerja ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada kuartal III/2029.

Melati memperingatkan bahwa tanpa dukungan regulasi hilirisasi dan fasilitas pasokan listrik yang kompetitif, percepatan pembangunan industri aluminium mandiri akan terhambat. 

"Tanpa dukungan ini hilirisasi akan berjalan lebih lambat dari target nasional. Sebagai penutup kami berkomitmen akan mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah nasional dan juga membangun industri aluminium yang mandiri dan dapat berdaya saing global," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement