Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ancaman 'Structural Oversupply' 2035, Inalum Proyeksikan Harga Aluminium Tertekan Hebat

Ancaman 'Structural Oversupply' 2035, Inalum Proyeksikan Harga Aluminium Tertekan Hebat Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Inalum (Persero) memberikan peringatan dini terkait potensi terjadinya excess kapasitas produksi aluminium nasional yang masif pada tahun 2035. Berdasarkan proyeksi perusahaan, total produksi aluminium primer Indonesia diperkirakan menembus 4,9 juta ton per tahun, sementara serapan pasar domestik diprediksi hanya mencapai 707 ribu ton, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya ketidakseimbangan pasar secara struktural.

Direktur Utama PT Inalum, Melati Sarnita, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, memaparkan bahwa ledakan kapasitas produksi ini dipicu oleh rencana pembangunan smelter baru oleh sekitar 15 perusahaan. Jika seluruh izin tersebut terealisasi, Indonesia terancam menghadapi situasi oversupply yang dapat menekan harga dan mempercepat penipisan cadangan bauksit nasional.

"Jadi Indonesia di tahun 2026 itu demand untuk aluminium primer itu hanya 533.000 ton per tahun dengan jumlah total produksi 1,398 ton per tahun. Dengan seluruh forecast capacity yang saya sampaikan sebelumnya nantinya di tahun 2035 itu Indonesia akan memiliki 4,9 juta ton aluminium primer sementara demand dari lokal hanya di 707 ribu ton per tahun," ungkap Melati dikutip Jumat (3/4/2026).

Tekanan Harga dan Oversupply Global

Melati menjelaskan bahwa kelebihan produksi domestik tersebut mau tidak mau harus dialokasikan untuk mengisi pasar global. Namun, kondisi pasar internasional saat ini tengah dibayangi oleh tren Oversupply akibat ekspansi kapasitas Refinery di berbagai negara dan gangguan permintaan akibat dinamika geopolitik.

Baca Juga: Cadangan Bauksit Terancam Habis dalam 10 Tahun, Inalum Desak Moratorium Smelter Baru

Kondisi Structural Oversupply ini telah menekan harga alumina global ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

"Dengan kondisi oversupply struktural saat ini, harga alumina pada sekitaran level 300 dollar per 300 dollar per ton yang mana ini merupakan level terendah sejak tahun 2021," papar Melati.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini berpotensi menggerus margin perusahaan jika tidak ada kontrol terhadap kapasitas baru.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman

Advertisement