Kredit Foto: Istimewa
Lonjakan harga plastik yang terjadi belakangan ini tak sekadar menjadi isu ekonomi biasa, melainkan membuka tabir besar tentang rapuhnya kemandirian industri dalam negeri.
Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor kembali menjadi sorotan tajam, terutama saat gejolak geopolitik global langsung menghantam harga di pasar domestik.
Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karyaguna, menilai fenomena melonjaknya harga plastik harus dibaca sebagai peringatan serius. Menurutnya, selama Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri, gejolak harga akan terus menjadi ancaman yang sulit dikendalikan.
“Ini bukan sekadar soal mahalnya plastik. Ini soal bagaimana kita terlalu bergantung pada sistem global yang tidak bisa kita kendalikan,” ujar Buky, Selasa (14/4/2026).
"Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengubah arah kebijakan ekonomi nasional, terutama dalam hal substitusi impor," sambungnya.
Buky mendorong percepatan penggunaan bahan alternatif berbasis lokal yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam memanfaatkan sumber daya alam seperti pelepah pisang, bambu, hingga serat alami lainnya untuk menggantikan plastik. Namun, potensi tersebut belum dioptimalkan secara maksimal karena minimnya dukungan kebijakan dan industrialisasi.
“Kenapa kita tidak dorong produksi massal piring dari bahan organik? Kita punya bahan bakunya, kita punya inovatornya, tapi tidak pernah naik kelas,” katanya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti ketergantungan impor di sektor lain, seperti kedelai yang menjadi bahan utama tahu dan tempe. Ketika harga global naik, dampaknya langsung terasa di dapur masyarakat Indonesia.
“Kita makan tahu tempe setiap hari, tapi bahan bakunya diatur negara lain. Ini ironi besar bagi bangsa agraris,” tegasnya.
Buky menilai, tanpa langkah konkret untuk memperkuat industri hulu dalam negeri, Indonesia akan terus berada dalam posisi rentan terhadap tekanan eksternal. Ia pun mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada stabilisasi harga, tetapi juga membangun ekosistem produksi nasional yang kuat dan mandiri.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso Cari Pasokan Biji Plastik dari Afrika hingga Amerika
Situasi ini menjadi pengingat bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak. Ketika krisis datang, negara yang bergantung pada impor akan selalu menjadi pihak paling terdampak.
"Di tengah tekanan global yang tak menentu, pilihan bagi Indonesia hanya dua; terus bergantung, atau mulai berdiri di atas kekuatan sendiri," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement