Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Selain Nafta, Ini Penyebab Harga Plastik Meningkat

Selain Nafta, Ini Penyebab Harga Plastik Meningkat Kredit Foto: Freepik
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah perundingan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan. Situasi ini memunculkan kembali ancaman blokade di jalur pelayaran vital tersebut, yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia. Dampaknya pun langsung terasa pada pasar global, terutama sektor energi dan industri turunannya.

Kenaikan tensi ini tidak hanya mendorong lonjakan harga minyak mentah, tetapi juga merembet cepat ke sektor petrokimia. Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah nafta, bahan baku utama dalam industri plastik. Sebagai turunan langsung dari minyak bumi, harga nafta sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.

Data per 10 April 2026 menunjukkan harga nafta telah menyentuh level 901,9 dolar AS per ton. Angka ini mencerminkan lonjakan lebih dari 50 persen sejak konflik kembali memanas pada akhir Februari lalu. Kenaikan tersebut memberikan tekanan signifikan pada industri hilir, terutama produsen plastik yang bergantung pada bahan baku ini untuk memproduksi polimer seperti polietilen dan polipropilen.

Imbasnya, harga plastik di pasar turut terkerek naik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada produsen, tetapi juga berpotensi menjalar ke berbagai sektor industri lain yang menggunakan plastik sebagai bahan utama, mulai dari kemasan hingga manufaktur.

Situasi semakin kompleks dengan terganggunya rantai logistik global. Durasi pengiriman yang sebelumnya berkisar 15 hari kini membengkak hingga mencapai 50 hari. Selain itu, biaya pengiriman (freight) juga meningkat tajam akibat tambahan biaya risiko (surcharge), seiring meningkatnya ancaman keamanan terhadap kapal yang melintasi kawasan tersebut.

Baca Juga: Harga Plastik Meroket, Puan Usul Pakai Daun Jati dan Daun Pisang, Bisa Dimulai dari Rumah Makan Dulu

Kapal-kapal yang melewati jalur ini kini menghadapi risiko serangan, sehingga banyak operator pelayaran menerapkan biaya tambahan atau bahkan mengalihkan rute. Dampaknya, biaya impor bahan baku melonjak dan menekan seluruh rantai produksi, dari hulu hingga hilir.

Jika ketegangan terus berlanjut, tekanan terhadap harga energi dan bahan baku diperkirakan masih akan berlanjut. Kondisi ini berpotensi memperburuk biaya produksi global dan memicu efek berantai terhadap harga barang di berbagai sektor industri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement