- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bidik 30 Ribu Ton Bijih, PT Timah Andalkan Stasiun Pengumpul Baru di 2026
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT Timah (Persero) Tbk mematok target pengumpulan bijih timah sebesar 30.000 ton pada tahun operasional 2026.
Guna mengejar target tersebut, emiten anggota holding MIND ID ini mengandalkan transformasi tata kelola, melalui pembentukan unit operasional baru yang disebut "Stasiun Pengumpul."
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro menjelaskan, pembentukan unit ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kendali operasional perusahaan secara mandiri.
Inisiatif ini sekaligus merespons harapan Aparat Penegak Hukum (APH), agar proses pengumpulan bijih dilakukan sesuai ketentuan hukum dan lebih transparan.
"Kami membuat unit-unit baru atau institusi baru yang kami sebut stasiun pengumpul."
"Dulu sebagian besar dikerjakan oleh mitra, tapi sekarang sesuai dengan tata kelola yang tidak melanggar, yang sesuai ketentuan atau harapan APH."
"Kami melakukan sendiri melalui stasiun pengumpul di PT Timah," ungkap Restu dalam RDP bersama Komisi XII DPR di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Evaluasi Kinerja 2025
Target 30.000 ton pada 2026 merupakan lompatan signifikan dari realisasi tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan manajemen, pengumpulan bijih timah sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 18.000 ton.
Angka tersebut sebenarnya sedikit di bawah target awal (kurang sekitar 2.000 ton), karena kendala administratif dalam pelaporan akhir tahun.
Meskipun volume produksi menghadapi tantangan, PT Timah tetap mencatatkan kinerja finansial yang positif.
Sepanjang tahun buku 2025, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,2 triliun (unaudited).
"Kami laporkan pengumpulan bijih timah tahun 2025 (sebesar) 18.000 (ton) yang bisa kita dapatkan."
"Dan untuk pencapaian laba tahun ini 2025 itu 1,2 triliun unaudited."
"Jadi, untuk tahun depan (2026) 30.000 ton," tegas manajemen dalam paparannya.
Kemandirian Operasional & Inklusi Masyarakat
Melalui unit Stasiun Pengumpul, PT Timah berkomitmen mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga.
Perseroan ingin memastikan posisi mitra di masa depan hanya sebagai penyedia jasa pertambangan, yang memiliki kedudukan setara dengan perusahaan.
"Ini menuju pelan tapi pasti, agar PT Timah harus mampu dan bisa menambang sendiri, tidak tergantung kepada pihak lain."
"Pihak lain nanti menjadi mitra yang posisi dan kerja samanya berimbang atau setara," tambahnya.
Selain memperkuat internal, Stasiun Pengumpul juga menjadi wadah inklusi bagi masyarakat lokal.
Baca Juga: PT Timah Gelar Groundbreaking Logam Tanah Jarang pada 20 Mei 2026
PT Timah melaporkan telah mulai mengintegrasikan koperasi-koperasi daerah ke dalam rantai pasok resmi, yang sebelumnya tidak masuk skema kemitraan.
Dengan perbaikan tata kelola di sektor hulu melalui Stasiun Pengumpul ini, manajemen optimis stabilitas pasokan bahan baku akan terjaga, sehingga mampu mendukung agenda hilirisasi logam tanah jarang (REE) dan produk timah lanjutan yang sedang dipacu perusahaan. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement