Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai pro dan kontra, semakin panas setelah mahasiswa turun ke jalan menuntut penghentian program tersebut.
Dalam aksi demonstrasi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut yang digelar BEM UI bersama sejumlah organisasi mahasiswa di Bundaran HI, Jumat (12/6/2026), salah satu tuntutan utama adalah agar pemerintah menghentikan MBG.
Seorang netizen dengan akun X @Hidup**** menyarankan masyarakat bisa bertindak sendiri jika Presiden Prabowo Subianto menolak menghentikan program tersebut.
"Kalo MBG ngk mau di stop Prabowo, Rakyat aja yang stop yok. Caranya simpel kayak foto ini, Tolak jadi supplier MBG," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (15/6).
Cuitan ini mendapatkan lebih dari 500 komentar, diretweet 15 ribu kali dan mendapatkan like mencapai 57 ribu pengguna X.
Cuitan ini langsung viral dengan lebih dari 500 komentar, 15 ribu retweet, dan 57 ribu like. Banyak netizen mendukung, bahkan ada yang mengaku kenalannya mengalami kerugian besar karena menjadi pemasok buah untuk MBG.
"Ayahnya temenku sampe rugi banyak garagara supply buah buat MBG, ngga dibayar sampe berbulan bulan. tapi sppg di sini udah banyak yang tutup soalnya duitnya ngga cair. MBG di sekolah tempatku kerja katanya bentar lagi diberhentikan wkw," tulis akun @your*****.
Sebagai informasi, pemerintah tetap menjalankan MBG karena diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk menghadirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.
Bagi pemerintah MBG merupakan bagian dari strategi mengurangi stunting, meningkatkan kualitas gizi, mendorong produktivitas generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan.
Baca Juga: Purbaya Akan Temui Bos BGN Pekan Ini, Bahas Efisiensi Anggaran MBG?
Baca Juga: Cara Licik Mulyono Lakukan Mark Up Motor Listrik Proyek MBG Padahal Enggak Punya Dealer
Dalam peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026), Presiden Prabowo menegaskan bahwa program MBG dapat memutar uang hingga miliaran di tingkat desa.
"Tiap hari di desa beredar uang 3.000 kali Rp 15.000, ada yang lebih ada yang sedikit, berkurang dan sebagainya. 3.000 kali Rp 15.000, Rp 45 juta tiap hari, dan di situ adalah 5 hari seminggu kali 4, 20 hari kali Rp 45 juta. Berarti Rp 900 juta tiap bulan, kali 12. 12 kali Rp 900 juta, Rp 10,8 miliar," tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya