Piala Dunia Terancam, Isu Keamanan Jadi Perhatian di Amerika Serikat
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat mengumumkan telah mencairkan seluruh dana keamanan untuk ajang Piala Dunia FIFA 2026. Namun, penutupan (shutdown) pemerintah telah berdampak pada perencanaan dan koordinasi.
Pejabat Department of Homeland Security (DHS) Amerika Serikat, Christopher Tomney mengatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan danan untuk pengamanan turnamen sepak bola tersebut. Dana terkait sendiri sebesar US$625 juta. Dana tersebut kini telah tersedia sepenuhnya untuk digunakan dalam persiapan keamanan.
Baca Juga: Stok Dikuras Perang Iran, Amerika Serikat Lobi Ford hingga General Motors untuk Produksi Senjata
Namun, meski dana sudah cair, shutdown yang berlangsung lebih dari dua bulan telah menyebabkan penundaan perencanaan, pengurangan tenaga kerja (furlough) hingga gangguan koordinasi antar lembaga di Amerika Serikat.
"Banyak upaya perencanaan yang sedang berlangsung untuk piala dunia telah diperlambat, telah ditunda karena kekurangan dana, dan beberapa individu dirumahkan," kata Tomney.
Tomney menyebut salah satu dampak paling signifikan adalah berkurangnya personel keamanan, khususnya dari Transportation Security Administration. Ratusan petugas keamanan transportasi dilaporkan meninggalkan pos mereka.
“Kami tidak bisa menggantikan keahlian tersebut dalam waktu singkat,” ujar Tomney.
Kondisi ini juga menghambat koordinasi dengan pemerintah negara bagian dan otoritas lokal. Padahal, kolaborasi lintas lembaga sangat penting untuk pengamanan event berskala global.
Sebelumnya, laporan intelijen telah memperingatkan potensi ancaman dari kelompok ekstremis dan jaringan kriminal. Hal ini membuat keterlambatan persiapan menjadi perhatian serius di Amerika Serikat.
Piala Dunia 2026 diketahui akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah dengan 48 tim peserta. Ia akan diselenggarakan pada bulan dari Juni-Juli di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.
Dengan waktu yang semakin dekat, pemerintah kini berupaya mempercepat kembali perencanaan keamanan, koordinasi lintas lembaga dan penempatan personel usai terjadinya shutdown di Amerika Serikat.
Shutdown sendiri terjadi akibat kebuntuan politik di kongres terkait pendanaan, termasuk kebijakan imigrasi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski sang presiden telah menandatangani perintah untuk tetap membayar pegawai sejumlah lembaga, dampak operasional tetap terasa.
Baca Juga: Amerika Serikat: China Akan Hentikan Impor Minyak Iran
Keberhasilan pengamanan turnamen ini akan menjadi tolok ukur kemampuannya dalam mengelola event internasional di tengah tekanan politik dan keamanan di Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement