Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amerika Serikat: China Akan Hentikan Impor Minyak Iran

Amerika Serikat: China Akan Hentikan Impor Minyak Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat pecaya bahwa pihaknya dapat menghentikan supplai minyak dri Iran ke China. Hal ini menyusul ancaman sanksi hingga blokade yang dijalankan pihaknya di Selat Hormuz. 

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menegaskan bahwa sanksi hingga bloade akan menghentikan pembelian minyak dari Teheran ke Beijing. China diketahui menyerap lebih dari 80% ekspor minyak dari Iran.

Baca Juga: Tak Hanya Blokade Selat Hormuz, Amerika Serikat Ancam Sanksi Pembeli Minyak Iran

"Kami percaya (bahwa dengan) blokade ini, akan ada jeda dalam pembelian oleh China," kata Bessent.

Departemen Keuangan Amerika Serikat juga disebut telah mengirimkan peringatan kepada dua bank di China. Peringatan tersebut menyebut bahwa mereka terancam sanksi jika pihaknya menemukan aliran dana dari Iran.

"Kami memberi tahu mereka bahwa jika kami dapat membuktikan bahwa ada uang dari negara tersebut yang mengalir melalui rekening mereka, maka kami bersedia untuk memberlakukan sanksi sekunder," kata Bessent.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai memblokade wilayah dari Selat Hormuz. Hal tersebut menyusul kegagalan negosiasi untuk menghentikan konflik dari Washington dan Iran.

Trump juga menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang membayar biaya atau “toll” kepada Iran. Ia menegaskan ketidaksukaannya terhadap rencana penerapan tarif terhadap kapal yang ingin melintasi jalur dari Selat Hormuz.

Adapun Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau U.S. Central Command (CENTCOM) sendiri menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan secara menyeluruh dan tanpa pengecualian terhadap kapal dari semua negara. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah lanjutan dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Mereka juga juga mengumumkan bahwa pihaknya mulai melakukan persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut dalam wilayah dari Selat Hormuz.

Operasi tersebut melibatkan dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat. USS Frank E. Peterson (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) dikerahkan dan dilaporkan telah melintasi wilayah dari Selat Hormuz.

Pasukan Garda Revolusi Iran membalas hal itu dengan memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayahnya akan dianggap melanggar gencatan senjata dua pekan dengan Amerika Serikat. 

Iran menegaskan bahwa pelanggaran tersebut akan ditindak secara keras dan tegas. Selat Hormuz ditegaskannya berada di bawah kendali penuh dan manajemen angkatan laut dari Teheran. Pihaknya juga menegaskan jalur tersebut tetap dibuka untuk kapal non-militer dan pelayaran komersial selama mereka mengikuti aturan yang ditetapkan.

Adapun Blokade terjadi akibat gagalnya pembicaraan di Islamabad. Ia sendiri merupakan pertemuan langsung pertama dalam lebih dari satu dekade dari Iran dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Menurut Washington, Iran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Baca Juga: Pengumuman Trump Jadi Sorotan, Ada Dugaan Insider Trading Minyak Terkait Perang Iran-Amerika Serikat

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement