Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Transformasi Kaizen Ala BUMN

Oleh: Arman Saputra, Pengamat Ekonomi Politik

Transformasi Kaizen Ala BUMN Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bad news is a good news. Adagium ini telah lama menjadi realitas pahit di tengah masyarakat kita. Di belahan dunia mana pun, kontroversi, perdebatan, atau kritik tajam selalu lebih cepat memicu rasa ingin tahu ketimbang berita pencapaian yang substantif. Tak heran jika ruang publik kita kerap dihiasi publikasi negatif, terutama jika menyangkut birokrasi dan pemerintahan. 

Fenomena ini memiliki akar ilmiah yang kuat; peraih Nobel Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia cenderung menggunakan jalan "heuristik"—sebuah mekanisme mental untuk menyimpulkan sesuatu secara cepat. Secara psikologis, berita buruk memiliki daya lekat yang lebih kuat di memori kita karena otak manusia secara evolusioner lebih peka terhadap ancaman. Kahneman membuktikan bahwa rasa kecewa akibat kehilangan materi jauh lebih membekas ketimbang rasa senang saat mendapatkan sesuatu dengan nilai yang sama. Akibatnya, narasi bombastis yang negatif sering kali lebih "menjual" daripada penjelasan komprehensif yang berbasis data.

​Namun, memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, publik perlu mendapatkan informasi yang lebih jernih di tengah riuhnya bias heuristik tersebut. Salah satu sinyal positif yang paling nyata kini bergerak di sektor tata kelola BUMN melalui kehadiran Danantara dan BP BUMN. Keputusan membentuk dua badan ini merupakan langkah transformasi besar untuk memisahkan peran operasional dan regulator BUMN. 

Bayangkan betapa rumitnya membentuk dua lembaga yang satu sama lain beda tapi sekaligus sama. Berbeda fungsi tapi punya tujuan yang sama untuk menunjang BUMN yang semakin baik. 

Ini ibarat membangun sebuah proyek mahabesar yang punya segudang tantangan. Tantangan semakin sulit mengingat kedua organisasi ini juga mesti menjalin relasi sinergis dengan beragam latar yang berbeda.

Dua orang bersinergi dalam rumah tangga saja sulit, apalagi jika menyangkut organisasi besar yang punya pendekatan dan kultur yang berbeda. Ada risiko muncul persaingan atau ego sektoral antara Danantara dan BP BUMN. Namun kenyataannya sinergi keduanya berjalan relatif mulus. Kekhawatiran ego sektoral pun tak terbukti. 

Danantara, yang diluncurkan pada awal 2025, berfungsi sebagai motor pengelola aset seluruh BUMN yang bergerak lincah di jalur profesional dengan meninggalkan sistem birokrasi lama yang kaku. 

Salah satu terobosan konkretnya terlihat pada investasi sektor waste to energy sebagai solusi inovatif bagi masalah lingkungan sekaligus ketahanan energi nasional. Di sisi lain, BP BUMN hadir sebagai regulator yang menyusun payung kebijakan dan KPI, memastikan bahwa gerak lincah Danantara tetap efektif, efisien, dan selaras dengan kepentingan strategis negara.

​Keseimbangan tugas yang sinergis ini menjadi modal utama keduanya dalam mendorong penataan ulang struktur BUMN yang selama ini mengalami "obesitas" organisasi. Dari sekitar 1.000 perusahaan, BP BUMN akan melakukan penyederhanaan besar-besaran menjadi sekitar 300-an entitas agar perusahaan pelat merah kembali fokus pada bisnis inti (core business). Kita melihat contoh nyata pada sektor logistik yang kini dipusatkan di bawah PT Pos Indonesia, atau BUMN Karya yang kini difokuskan pada tiga pilar utama: Konstruksi Gedung, Infrastruktur, dan EPC. Tak hanya merampingkan, orkestrasi ini menciptakan sinergi hulu-hilir yang efektif, seperti rantai pasok baja dari Krakatau Steel yang diserap oleh manufaktur PT PAL atau INKA, untuk kemudian digunakan oleh operator transportasi seperti PT KAI. Inilah sinergi vertikal yang memperkuat kedaulatan industri nasional dari akar hingga pucuknya.

​Secara strategi korporasi, langkah pemangkasan ini memperkuat posisi BUMN dalam menghadapi lima kekuatan krusial industri menurut Michael Porter atau dikenal dengan Five Forces (1979). Dengan struktur yang lebih ramping, BUMN akan memiliki daya tawar yang lebih kuat di mata pemasok dan pembeli, serta mampu menekan persaingan internal yang tidak sehat antar-sesama perusahaan pelat merah yang selama ini justru saling "makan". Menggunakan metafora olahraga, langkah transformasi ini ibarat seorang pesepak bola yang sebelumnya terhambat karena berat badan berlebih. Melalui "diet" regulasi dan efisiensi, tubuh yang tambun itu kini diubah menjadi lebih berotot dan lincah sehingga mampu bersaing di tim utama. Begitu pula konsolidasi BUMN yang akan membuat perusahaan negara ini semakin efektif dan efisien hingga memperkuat posisi mereka di pasar. 

​Pada akhirnya, melalui sinergi dan komunikasi publik Danantara maupun BP BUMN yang baik, masyarakat mulai diberikan bukti bahwa good news bisa menjadi kabar yang benar-benar baik jika diiringi kinerja nyata pada pengimplementasiannya. Sinyal optimisme ini menjadi pengejawantahan dari visi Presiden Prabowo bahwa Indonesia tidak lagi dianggap sebagai "raksasa yang tertidur", melainkan raksasa yang telah bangun dan bergerak maju. 

Memang perbaikan BUMN masih jauh dari kata sempurna. Masih ada catatan di kanan kiri soal eksistensi Danantara maupun BP BUMN sebagai lembaga baru. Tapi mengadopsi konsep kaizen ala Jepang, yakni perbaikan yang konsisten dan terus menerus, sekecil apapun itu. Sebab lebih baik perbaikan positif itu kecil tapi kumulatif serta konsisten.

Saatnya pula kita sebagai publik memberikan ruang atensi bagi berita transformasi kaizen ala BUMN ini. Hal ini penting agar memori kolektif kita tidak hanya diisi oleh sentimen negatif semata, tetapi juga oleh harapan yang berdasar pada data, fakta, serta realita.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement