Shelter Indonesia Hadirkan Ekosistem Digital Shelter+ untuk Operasional Terintegrasi
Kredit Foto: Shelter Indonesia
Shelter Indonesia memperkuat posisinya sebagai penyedia solusi alih daya yang tidak hanya bertumpu pada tenaga kerja, tetapi juga didukung oleh sistem dan teknologi terintegrasi.
Untuk itu, Shelter Indonesia memperkenalkan arah baru perusahaan melalui agenda Corporate Branding: Brand Positioning Launch Shelter Indonesia, sebagai langkah strategis menegaskan transformasi bisnis perusahaan.
Transformasi ini didorong oleh perubahan kebutuhan operasional dunia usaha.
Saat ini, perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan layanan yang berjalan, tetapi juga visibilitas yang lebih jelas, kendali yang lebih kuat, serta pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Dalam konteks ini, Shelter Indonesia melihat pola operasional yang masih terpisah dan manual tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan bisnis yang semakin dinamis.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Shelter Indonesia menghadirkan Shelter+, sebuah platform yang dirancang sebagai ekosistem digital, untuk mendukung operasional secara menyeluruh.
Melalui platform ini, berbagai aktivitas dapat dipantau dan dikelola dalam satu alur yang terintegrasi, mulai dari pemantauan keamanan melalui Shelter Guard, pengelolaan cleaning service melalui Shelter Cleaning, pelacakan aktivitas penjualan melalui Sellgo, hingga pengelolaan tenaga kerja fleksibel melalui Casual Work.
Pendekatan ini memungkinkan proses operasional yang sebelumnya tersebar menjadi lebih terhubung, lebih terukur, dan lebih berbasis data.
Chief Executive Officer (CEO) Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan, arah baru ini berangkat dari kebutuhan membangun operasional yang lebih utuh dan terkendali.
Menurutnya, tantangan operasional saat ini bukan lagi sekadar memastikan pekerjaan berjalan, tetapi juga memastikan setiap proses dapat dipantau, diukur, dan dikelola dengan lebih baik.
“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan sumber daya manusia dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujar Hari.
Ia menambahkan, transformasi ini membawa Shelter Indonesia ke posisi baru.
Perusahaan tidak lagi hanya hadir sebagai penyedia tenaga kerja operasional, tetapi berkembang menjadi ekosistem tenaga kerja terintegrasi yang memadukan sumber daya manusia dan teknologi, untuk menjawab kebutuhan klien secara lebih menyeluruh.
Dari sisi pengembangan pasar dan solusi, Chief Marketing Officer (CMO) Shelter Indonesia Nino Mayvi menegaskan, kebutuhan klien kini terus berkembang.
Menurutnya, pasar tidak lagi hanya mencari dukungan tenaga kerja, tetapi juga menuntut visibilitas, kontrol, dan transparansi yang lebih kuat dalam operasional.
“Pasar hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan visibilitas, kontrol, dan transparansi."
"Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” kata Nino.
Ia menjelaskan, teknologi dalam konteks Shelter Indonesia bukan sekadar pelengkap, melainkan alat untuk menciptakan proses kerja yang lebih terlihat, dapat ditindaklanjuti, dan berbasis data.
Dengan sistem yang terintegrasi, klien tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga memperoleh gambaran proses operasional secara lebih terbuka dan terstruktur.
Perspektif tersebut diperkuat oleh Business Consultant Shelter Indonesia Gordon John Stevenson, yang hadir memberikan pandangan dari sisi pengembangan bisnis dan pertumbuhan strategis.
Menurutnya, langkah yang dijalankan Shelter Indonesia bukan sekadar digitalisasi, melainkan respons strategis terhadap kebutuhan pasar yang terus berubah.
“Apa yang sedang dibangun Shelter bukan sekadar digitalisasi, ini adalah respons strategis terhadap kebutuhan pasar, sekaligus penegasan yang jelas mengenai arah perusahaan ke depan,” tutur Gordon.
Ia menambahkan, upaya Shelter Indonesia dalam menghubungkan berbagai elemen operasional ke dalam satu sistem terintegrasi, menghadirkan tiga hal penting bagi dunia usaha saat ini, yaitu visibilitas, keterukuran, dan kendali.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi efisiensi operasional, sekaligus keunggulan bersaing.
Melalui positioning baru bertajuk A New Shape of Shelter Indonesia, perusahaan ingin menegaskan masa depan layanan alih daya tidak lagi cukup bertumpu pada tenaga kerja semata.
Ke depan, keberhasilan operasional akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola aktivitas secara terintegrasi, memantau proses secara real-time, serta membangun sistem kerja yang lebih transparan, terukur, dan berbasis data.
Shelter Indonesia juga menegaskan, teknologi tidak hadir untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk memperkuatnya.
Baca Juga: Transformasi Digital Pemerintahan: Menegaskan Perubahan Budaya Kerja Sebagai Fondasi Utama
Sumber daya manusia tetap menjadi inti layanan, sementara teknologi berfungsi mendukung akurasi, mempercepat koordinasi, memperkuat akuntabilitas, dan membantu klien memperoleh kendali yang lebih baik terhadap proses bisnis mereka.
Melalui langkah ini, Shelter Indonesia berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam mendorong perkembangan industri alih daya menuju model layanan yang lebih modern, lebih terintegrasi, dan lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yaspen Martinus
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement