Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian, PT IIM Imbau Investor Diversifikasi Portofolio
Kredit Foto: Ist
Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, mulai berdampak pada pasar global dengan mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan volatilitas. Kondisi ini turut menjadi perhatian pelaku industri keuangan di dalam negeri.
PT Insight Investments Management (PT IIM) mengingatkan investor untuk segera menyesuaikan strategi investasi, termasuk melakukan diversifikasi portofolio guna meredam risiko ketidakpastian yang kian meningkat.
Direktur PT IIM, Camar Remoa, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia melalui sejumlah jalur utama.
Dari sisi eksternal, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak diperkirakan akan menghadapi peningkatan beban impor energi. Kondisi ini berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan hingga sekitar 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga: Saat Blokade Iran, Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat Mendadak Dipecat Trump
Tekanan juga diprediksi terjadi pada nilai tukar rupiah. Tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, ditambah pergeseran investor global ke aset aman (flight to safety), berpotensi mendorong rupiah melemah hingga kisaran Rp17.100 per dolar AS. Dalam situasi ini, Bank Indonesia diperkirakan perlu menyesuaikan kebijakan suku bunga guna menjaga stabilitas.
Di sisi fiskal, lonjakan harga minyak di atas asumsi makro dapat meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp200 triliun. Hal ini berisiko memperlebar defisit anggaran mendekati atau bahkan melampaui batas tiga persen terhadap PDB.
Selain itu, tekanan inflasi juga menjadi ancaman. Jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, inflasi domestik diperkirakan bisa meningkat lebih dari dua hingga tiga persen, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat dan mengganggu iklim usaha.
“Ekonomi Indonesia memang masih memiliki bantalan untuk tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026, didukung kebijakan fiskal yang ekspansif. Namun, durasi konflik menjadi faktor kunci. Semakin lama krisis berlangsung, semakin besar tekanan terhadap stabilitas makroekonomi,” ujar Camar.
Strategi Investasi Adaptif
Menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif, PT IIM menekankan pentingnya strategi investasi yang adaptif dan disiplin. Investor diimbau untuk tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen.
Untuk profil risiko konservatif, instrumen likuid seperti reksa dana pasar uang dinilai cocok sebagai tempat penyimpanan dana jangka pendek sambil menunggu kondisi pasar lebih stabil.
Sementara itu, investor dengan profil moderat hingga agresif dapat mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap atau investasi saham secara bertahap. Strategi investasi berkala atau dollar cost averaging (DCA) dinilai efektif untuk mengurangi risiko kesalahan waktu masuk pasar sekaligus menangkap potensi pertumbuhan jangka panjang.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, PT IIM menawarkan dua produk unggulan. Insight Money (I-Money) merupakan reksa dana pasar uang dengan likuiditas tinggi dan imbal hasil relatif stabil melalui penempatan pada deposito dan obligasi jangka pendek. Sejak diluncurkan pada 2015 hingga Maret 2026, produk ini mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 90,94 persen.
Adapun Insight Elite Fund (I-Elite) merupakan reksa dana syariah pendapatan tetap yang berfokus pada sukuk korporasi dan sukuk negara. Produk ini mencatatkan pertumbuhan kumulatif lebih dari 120 persen sejak diluncurkan pada 2016 hingga Maret 2026.
Selain potensi imbal hasil, kedua produk tersebut juga memberikan kesempatan bagi investor untuk berkontribusi pada program sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.
Untuk mempermudah akses, investor dapat melakukan pembelian produk melalui aplikasi InvestasiIN yang tersedia di platform Android dan iOS.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat