Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Patahkan Klaim Amerika Serikat, Taktik Kapal Cepat Iran Jadi Ancaman Baru di Selat Hormuz

Patahkan Klaim Amerika Serikat, Taktik Kapal Cepat Iran Jadi Ancaman Baru di Selat Hormuz Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran mengejutkan dunia dengan penggunaan kapal cepat dalam menyita kapal dagang di Selat Hormuz. Hal tersebut menunjukkan ancaman baru terhadap blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Ambrey Senior Analyst, Daniel Mueller mengatakan bahwa taktik yang digunakan baru-baru ini memperlihatkan kompleksitas dalam upaya membuka kembali jalur ekspor minyak global yang vital. Hal tersebut juga menantang klaim kekuatan maritim yang dimiliki oleh Iran.

Baca Juga: Paus Leo Soroti Gagalnya Diplomasi Iran-Amerika Serikat: Semua Menderita

Amerika Serikat sebelumnya menegaskan bahwa pihaknya telah melemahkan angkatan laut dari Iran. Ia juga meremehkan penggunaan kapal cepat dengan menilai bahwa hal tersebut bukanlah ancaman besar hingga dapat dengan mudah dihancurkan oleh Washington.

Namun dengan penggunaannya dalam penyitaan kapal baru-baru ini, kapal cepat dilihat sebagai tulang punggung strategi perang asimetris dari Iran. Selain kapal kecil, mereka juga mengandalkan rudal darat, drone, ranjau laut dan gangguan elektronik untuk menciptakan ketidakpastian di medan perang.

Mueller memperkirakan bahwa negara tersebut memiliki ratusan hingga ribuan kapal jenis ini sebelum perang dimulai, dengan sebagian disembunyikan di terowongan pesisir atau bercampur dengan kapal sipil.

Kecepatan tinggi membuat kapal-kapal ini mampu melakukan serangan cepat (hit-and-run) yang sulit dideteksi. Dalam operasi penyitaan kapal, biasanya digunakan sekitar selusin kapal kecil yang bergerak secara terkoordinasi.

Meski rentan terhadap serangan rudal berpemandu, kapal ini tetap berbahaya, terutama bagi kapal dagang yang tidak memiliki kemampuan pertahanan.

Selain itu, menghadapi kapal kecil jauh lebih sulit dibandingkan menghancurkan kapal perang besar. Target yang kecil, cepat dan tersebar membuat operasi militer menjadi lebih kompleks dan berisiko. Senjata portabel seperti peluncur rudal bahu yang dimiliki oleh kapan cepat ini juga dapat mengancam pesawat rendah milik Amerika Serikat.

Situasi ini meningkatkan risiko bagi industri pelayaran global. Selain gangguan operasional, biaya asuransi kapal diperkirakan akan melonjak akibat meningkatnya ancaman keamanan dari Selat Hormuz.

Selat itu sendiri merupakan jalur strategis yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan dalamkawasan ini berpotensi memicu krisis energi global. Setelah gencatan senjata pada awal bulan ini, serangan terhadap kapal sempat mereda. Namun, aksi penyitaan terbaru menunjukkan bahwa risiko kembali meningkat.

Penggunaan kapal cepat menunjukkan bahwa meskipun kekuatan konvensionalnya melemah, kemampuan asimetris tetap menjadi ancaman signifikan. Hal ini memperpanjang ketidakpastian di kawasan dan menambah tekanan pada stabilitas perdagangan global.

Sebelumnya, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan bahwa pihaknya telah menembaki dua kapal bernama MSC Francesca dan Epaminondas. Kedunya berbendera Panama dan Liberia. Pihaknya menilai bahwa kedua kapal tersebut telah beroperasi tanpa izin serta memanipulasi sistem navigasi mereka. Tuduhan ini menjadi dasar tindakan penyitaan oleh Iran.

Epaminondas diketahui dilaporkan ditembaki sekitar 15 mil laut barat laut Oman. Kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian anjungan setelah terkena tembakan dan granat berpeluncur roket dari kapal cepat milik IRGC.

Ia sendiri membawa 21 awak yang terdiri dari warga Ukraina dan Filipina. Tidak ada laporan korban jiwa, namun kapal mengalami kerusakan signifikan akibat serangan tersebut.

MSC Francesca di sisi lain juga terkena tembakan sekitar delapan mil laut dari wilayah Iran. Namun kapal tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan dan seluruh awak dinyatakan selamat. Satu kapal lainnya juga ditembaki, tetapi berhasil melanjutkan pelayaran tanpa kerusakan.

Sementara Amerika Serikat mengatakan bahwa pihaknya mencegat setidaknya tiga tanker berbendera dari Iran di Asia. Ia dilaporkan memaksa kapal-kapal tersebut mengalihkan jalurnya dan menjauh dari posisi mereka dekat wilayahdari India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Laporan menyebutkan bahwa salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker bernama Deep Sea. Kargo kapal tersebut dilaporkan sebagian bermuatan minyak mentah dan terakhir terdeteksi di lepas pantai dari Malaysia.

Kapal lainnya yang terkena blokade bernama Sevin. Ia juga turut bermuatan minyak mentan dan memiliki kapasitas maksimum 1 juta barel dan membawa muatan berisi hingga sekitar 65%.

Baca Juga: Usai Dikritik Trump, Paus Leo Akhirnya Kecam Kematian Demonstran di Iran

Supertanker Dorena juga diketahui menjadi salah satu yang terkena dampak blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Ia membawa penuh sekitar 2 juta barel minyak mentah dan kini dikawal oleh kapal perusak dari Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudra Hindia. Kapal ini sebelumnya terdeteksi di lepas pantai dari India.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar