Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Orang Asli, Influencer Pro-Trump Ini Ternyata Dibuat AI dan Raup Ribuan Dolar

Bukan Orang Asli, Influencer Pro-Trump Ini Ternyata Dibuat AI dan Raup Ribuan Dolar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Influencer pro-Donald Trump bernama Emily Hart yang sempat viral di media sosial ternyata bukan sosok nyata, melainkan persona hasil kecerdasan buatan (AI) yang dibuat seorang mahasiswa asal India.

Sosok wanita pirang yang dikenal vokal mendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) itu belakangan terungkap sebagai karakter fiktif.  Menurut laporan Wired via The Independent, kreatornya adalah mahasiswa laki-laki berusia 22 tahun yang menggunakan nama samaran Sam.

Sam memanfaatkan teknologi AI untuk membangun identitas Emily Hart, mulai dari foto hingga persona di media sosial.

Ia menggunakan generator gambar untuk menciptakan visual yang tampak realistis sehingga mampu menarik perhatian publik, khususnya kelompok konservatif di Amerika Serikat.

Strategi tersebut terbukti berhasil. Dalam waktu satu bulan, akun Emily Hart berhasil mengumpulkan sekitar 10.000 pengikut dengan konten yang menyasar isu-isu sensitif seperti imigrasi dan aborsi. Salah satu unggahannya bahkan menyerukan deportasi massal bagi imigran.

Motif di balik pembuatan akun ini pun cukup sederhana: uang.

Sam mengaku membuat persona tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan selama kuliah dan berhasil meraup ribuan dolar setiap bulan.

“Kelompok pendukung MAGA itu terdiri dari orang-orang bodoh, benar-benar bodoh. Dan mereka mudah tertipu,” kata Sam, melansir The Independent, Jumat (24/4).

Awalnya, ia hanya berniat membuat dan menjual gambar AI wanita berbikini. Namun setelah menggunakan Gemini AI, ia disarankan mencari ceruk pasar yang lebih spesifik. Sam kemudian mengarahkan karakter Emily Hart ke segmen konservatif atau pendukung MAGA agar lebih menarik dan menguntungkan.

Ia juga mengungkap bahwa Gemini menyebut “audiens konservatif (terutama pria paruh baya di AS) sering kali memiliki pendapatan yang lebih besar dan setia”.

Menanggapi hal ini, juru bicara Google menegaskan bahwa sistem mereka hanya merespons permintaan pengguna.

“Dan jika dimintai pendapat, ia seharusnya memberikan berbagai sudut pandang,” ujarnya.

Tak hanya mengandalkan media sosial, Sam juga memonetisasi karakter Emily melalui penjualan merchandise bertema MAGA seperti topi dan pakaian.

Selain itu, ia memperoleh pemasukan dari layanan konten berbayar di Fanvue, platform pesaing OnlyFans yang berfokus pada monetisasi konten berbasis AI.

Meski menuai kontroversi, Sam mengaku tidak menyesali tindakannya.

Baca Juga: Senator Demokrat sebut Trump Lahir dari Golongan Orang Kaya, Tak Pernah Merasakan Berjuang seperti Keluarga Imigran India

“Saya menghabiskan sekitar 30 hingga 50 menit setiap hari, dan saya mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk seorang mahasiswa kedokteran,” katanya.

Ia menambahkan, “Di India, bahkan di pekerjaan profesional sekalipun, Anda tidak bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Saya belum pernah melihat cara yang lebih mudah untuk menghasilkan uang secara online.”

Namun, perjalanan akun tersebut akhirnya terhenti. Halaman Instagram Emily Hart diblokir pada Februari setelah dituduh melakukan aktivitas penipuan, sementara akun Facebook-nya juga telah dihapus oleh Meta.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Amry Nur Hidayat