Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sebut Kripto Bakal Jadi Sistem Keuangan Masa Depan, Alchemy: Bukan Dijalankan Manusia, Tapi AI

Sebut Kripto Bakal Jadi Sistem Keuangan Masa Depan, Alchemy: Bukan Dijalankan Manusia, Tapi AI Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perusahaan Infrastruktur Kripto, Alchemy menilai sistem keuangan modern yang bergantung terhadap bank tidak dirancang untuk era kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, hal tersebut perlahan akan digantikan oleh sistem baru berbasis kripto.

Chief Executive Officer (CEO) Alchemy, Nikil Viswanathan menyebut bahwa kripto justru lebih cocok untuk agen akal imitasi dibanding manusia. Ia perlahan akan menggantikan sistem keuangan modern yang bergantung terhadap manusia.

Baca Juga: Indodax Ekspansi ke Bali Demi Perkuat Ekosistem Kripto

"Anda bisa berargumen bahwa kripto dibangun untuk agen akal imitasi, bukan manusia," kata Viswanathan.

Viswanathan menjelaskan bahwa sistem keuangan tradisional dibangun berdasarkan kebutuhan manusia seperti batas geografis, jam operasional bank hingga kehadiran fisik. Hal ini dinilai menjadi hambatan ketika akal imitasi mulai berperan sebagai pelaku ekonomi.

"Bank punya jam operasional karena manusia punya waktu istirahat. Pembayaran terikat negara karena manusia tinggal di sana," ujarnya.

Berbeda dengan manusia, agen akal imitasi tidak memiliki batasan geografis maupun waktu. Mereka dapat beroperasi secara global, tanpa henti dan melakukan transaksi sepenuhnya secara digital.

"Semua transaksi untuk agen terjadi secara online. Mereka secara inheren bersifat global," kata Viswanathan.

Menurut Viswanathan, kripto menawarkan sistem keuangan yang sesuai dengan kebutuhan akal imitasi seperti tanpa batasan geografis alias global, selalu aktif dan dapat diprogram.

"Kripto adalah infrastruktur global untuk uang yang dibutuhkan oleh agen," ujarnya.

Dalam sistem keuangan tradisional, transaksi lintas negara melibatkan banyak hambatan seperti konversi mata uang, perantara, biaya tinggi dan waktu proses yang lama. Hal ini dinilai tidak efisien bagi akal imitasi yang membutuhkan transaksi cepat dan fleksibel.

Viswanathan juga menekankan bahwa keunggulan kripto justru terletak pada kompleksitasnya yang berbasis kode, sesuatu yang lebih mudah dipahami oleh mesin dibanding manusia.

"Agen membaca dalam nol dan satu. Itu bahasa alami mereka, dan itu juga bahasa kripto," jelasnya.

Ia membandingkan peralihan ini dengan transformasi dari sistem pos ke email. Menurutnya, email lebih efisien karena dirancang untuk komputer, bukan manusia.

"Email jauh lebih kuat dibanding sistem pos karena dirancang untuk komputer. Kripto juga seperti itu," katanya.

Viswanathan melihat akal imitasi di masa depan akan berada di atas infrastruktur kripto, mengelola dompet digital, menjalankan transaksi dan mengoptimalkan arus dana secara otomatis.

"Anda bisa menulis kode untuk mengelola dompet kripto. Anda tidak bisa melakukan hal yang sama untuk rekening bank," ujarnya.

Viswanathan memprediksi sistem keuangan masa depan akan terdiri dari beberapa lapisan: keuangan tradisional dan kripto sebagai dasar, agen akal imitasi di atasnya dan manusia sebagai pengguna akhir.

"Seperti komputer mengoperasikan internet dan manusia menggunakannya, agen akan mengoperasikan sistem keuangan," tuturnya.

Baca Juga: Bhutan Jual Besar-Besaran Aset Bitcoin, Mulai Tinggalkan Kripto?

Pandangan ini menunjukkan potensi perubahan besar dalam sistem keuangan global, di mana peran manusia sebagai pelaku utama mulai bergeser ke sistem otomatis berbasis akal imitasi dan kripto.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar