China Diam-diam Bersiap Perang Dagang Lagi dengan Amerika Serikat
Kredit Foto: Istimewa
China diam-diam tengah bersiap untuk menghadapi perang dagang lanjutan dengan memanfaatkan gencatan dagang dengan Amerika Serikat. Ia melakukan hal tersebut dengan memperkuat pengaruhnya dalam sektor hukum, rantai pasok, dan teknologi strategis.
Dikutip dari Reuters, hubungan dagang kedua negara sebelumnya panas hingg akhirnya kesepakatan de-eskalasi perang dagang ditandatangani di Busan, Korea Selatan. Kebijakan itu sendiri dijadwalkan berakhir pada November 2026.
Baca Juga: Soal Penembakan di Gala Dinner, Trump: Bukti Kinerja Saya Telah Mengubah Amerika Serikat
Namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping dijadwalkan untuk melakukan pertemuan langsung yang mana dapat meredakan ketegangan dagang antara keduanya. Namun Beijing diam-diam terus menyiapkan langkah antisipatif jika ketegangan kembali meningkat.
Sejak penandatanganan kesepakatan, mereka meluncurkan berbagai kebijakan baru, termasuk pembatasan ekspor teknologi panel surya canggih. China saat ini memproduksi lebih dari 80% komponen panel surya dunia.
Beijing juga memperketat kontrol terhadap ekspor baterai lithium-ion, material grafit, dan teknologi terkait. Hal tersebut berdampak terhadap produksi mobil listrik global.
Melalui Dewan Negara, China mengeluarkan aturan yang memungkinkan tindakan balasan terhadap negara yang menerapkan kebijakan ekstrateritorial, termasuk sanksi sekunder dan pembatasan ekspor. Regulasi lain juga memberi kewenangan untuk menyelidiki dan menindak negara atau perusahaan asing yang dianggap merugikan rantai pasok industri dari China.
China juga meningkatkan tekanan terhadap Jepang. Hal itu dilakukan dengan melarang ekspor barang dual-use ke sejumlah perusahaan yang terkait dengan sektor militer, termasuk material tanah jarang.
Selain itu, ekspor elemen tanah jarang berat dan magnet juga dibatasi, memperkuat kontrol mereka atas komoditas strategis global.
Beijing mewajibkan produsen chip menggunakan minimal 50% peralatan domestik untuk ekspansi kapasitas produksi. Langkah ini bertujuan membangun rantai pasok semikonduktor yang mandiri.
China juga mewajibkan penggunaan chip akal imitasi buatan dalam negeri untuk proyek pusat data yang didanai pemerintah dari Beijing.
Otoritas China juga meminta perusahaan domestik menghentikan penggunaan perangkat lunak keamanan siber dari Amerika Serikat dan Israel. Mereka mengatakan hal itu dilakukan dengan alasan keamanan nasional.
China memperluas kontrol ekspor tanah jarang dengan menambahkan elemen baru seperti holmium, erbium, dan ytterbium. Negara ini juga memperketat regulasi terhadap teknologi pemurnian serta mewajibkan kepatuhan bagi produsen luar negeri yang menggunakan material dari China.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa meski ada gencatan dagang, mereka tetap memperkuat posisinya dalam menghadapi kemungkinan konflik ekonomi di masa depan. Dengan dominasinya di sektor material strategis dan teknologi, kebijakan ini berpotensi memengaruhi rantai pasok global serta meningkatkan ketegangan perdagangan internasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: