Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
PT ABM Investama Tbk (ABMM) mencatat penurunan kinerja keuangan sepanjang 2025 seiring tekanan harga batu bara global.
Perusahaan batu bara milik Trakindo Group itu membukukan laba bersih sebesar US$70,5 juta pada 2025 atau turun 51% dibandingkan 2024 yang mencapai US$139,4 juta.
Penurunan laba bersih tersebut sejalan dengan melemahnya pendapatan konsolidasi perseroan menjadi US$1,04 miliar pada 2025, turun 13,5% dibandingkan realisasi 2024 sebesar US$1,20 miliar.
“Jika dilihat berdasarkan sektor usaha, batu bara masih menjadi kontributor mayoritas,” ujar Group Head of Corporate Finance Treasury and Investor Relation ABM Investama, Mohamad Ditto Ananta Nugraha, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Segmen kontraktor tambang dan tambang batu bara yang menjadi tulang punggung pendapatan tercatat turun 15% menjadi US$755 juta. Segmen logistik dan penyewaan kapal juga melemah 3% menjadi US$136 juta.
Sementara itu, segmen perdagangan bahan bakar turun 12% menjadi US$66,2 juta. Adapun segmen Site Service Division(SSD) dan remanufaktur (remanufacturing) terkoreksi 8% menjadi US$48 juta.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan ABMM turun 13% menjadi US$934 juta. Namun, efisiensi tersebut belum mampu menahan penurunan laba kotor yang terkoreksi 21% menjadi US$103 juta.
Ditto mengatakan meski pendapatan menurun, perseroan masih mampu menjaga kinerja kas melalui efisiensi biaya pendanaan dan restrukturisasi pembiayaan.
Posisi kas dan setara kas tercatat mencapai US$199 juta atau tumbuh 17% secara tahunan, yang mencerminkan kekuatan fundamental keuangan perseroan.
Salah satu langkah utama yang dilakukan perusahaan adalah melakukan repackaging instrumen utang global bonds pada 2024. Perseroan menata ulang obligasi global berdenominasi dolar AS dengan mengonversi skema pembiayaan menjadi berbasis bunga floating rate dalam mata uang yang sama.
Baca Juga: ABM Investama Alokasikan Dividen Rp267 Milar ke Pemegang Saham
Baca Juga: Indosat (ISAT) Bukukan Pendapatan Rp15,2 Triliun di Q1 2026, Laba Melesat 13,7%
Baca Juga: Penjualan Turun, Laba Mayora Indah (MYOR) Tetap Melesat 37% di Q1 2026
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya bunga yang sebelumnya dinilai relatif tinggi. Melalui restrukturisasi tersebut, ABM Investama berhasil memperoleh tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
“Bunganya menjadi jauh lebih murah. Pada 2025 kami kembali melakukan negosiasi dengan perbankan sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan menurunkan beban bunga hingga 30%,” ujar Ditto.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: