Tingkatkan Daya Saing BUM Desa, CEO Bakrie Center Foundation Jimmy Gani Kemukakan Teori VECI
Kredit Foto: Istimewa
Indonesia memiliki potensi ekonomi desa yang besar dan terus didorong pemerintah melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa). Kehadiran BUM Desa, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengelolaan potensi dan ekonomi lokal.
Berdasarkan data Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) per Maret 2026, Indonesia memiliki 72.807 BUM Desa yang terdiri atas 66.332 BUM Desa dan 6.475 BUM Desa Bersama.
Namun, dari total tersebut, baru 45.245 BUM Desa yang telah berbadan hukum. Sementara itu, hasil pemeringkatan Kemendesa PDT pada 2024 yang diikuti 31.279 BUM Desa menunjukkan hanya 12.690 BUM Desa masuk kategori berkembang dan 1.923 BUM Desa masuk kategori maju. Selebihnya masih berada pada kategori perintis dan pemula.
Kondisi itu dinilai menunjukkan masih lebarnya kesenjangan daya saing BUM Desa. CEO Bakrie Center Foundation, Jimmy Gani, menyebut salah satu penyebab utamanya adalah model bisnis yang belum berjalan optimal.
Hal itu disampaikan Jimmy dalam sidang terbuka disertasi di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (5/5), saat memaparkan penelitiannya berjudul "Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Melalui Transformasi Model Bisnis".
Dalam penelitiannya, Jimmy menyoroti sejumlah kelemahan BUM Desa dalam aspek daya saing, mulai dari kemampuan manajerial, pemasaran, permodalan, hingga kemitraan. Dari riset tersebut, ia merumuskan teori pengukuran daya saing BUM Desa yang dinamakan Village Enterprises Competitiveness Index (VECI).
Teori VECI dirancang untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat daya saing BUM Desa secara lebih spesifik. Dari 164 BUM Desa yang diteliti, lebih dari 40 persen masuk kategori BUM Desa berdaya saing cukup, 33 persen berdaya saing kurang, dan 12,8 persen tidak memiliki daya saing. Sementara itu, hanya 9,8 persen dan 4,3 persen BUM Desa yang masuk kategori berdaya saing bagus dan sangat bagus.
“Memang saat ini sudah ada pemeringkatan terhadap BUM Desa-BUM Desa oleh Kemendesa PDT. Jadi dari perintis, pemula, berkembang, juga maju. Tapi saya melihat indeks-indeksnya itu belum menggambarkan bagaimana daya saing dari BUM Desa itu sendiri,” jelas Jimmy.
Menurut Jimmy, faktor yang memengaruhi daya saing BUM Desa meliputi ancaman produk pengganti, kelayakan produk, kompetisi yang semakin mengglobal, dan peluang pasar.
Berdasarkan teori VECI, Jimmy merumuskan empat tahapan transformasi untuk meningkatkan daya saing BUM Desa, yakni reframe, restructure, revitalize, dan renew.
Tahap reframe difokuskan pada perubahan cara pandang dan strategi BUM Desa dengan menitikberatkan pada perbaikan kelayakan produk, peluang, serta ancaman produk pengganti. Tahap restructure menitikberatkan pada restrukturisasi alokasi sumber daya dengan menciptakan sumber pendapatan baru.
Selanjutnya, tahap revitalize diarahkan untuk menghidupkan kembali produk dan layanan melalui segmentasi pelanggan maupun pembaruan budaya kerja yang lebih agile. Adapun tahap renew berfokus pada pembangunan kapabilitas baru untuk menghadapi ancaman produk pengganti, meningkatkan kelayakan produk, merespons kompetisi global, dan menangkap peluang pasar.
“Dengan adanya konektivitas (teknologi dan internet), jarak dan sekat-sekat antar wilayah itu bisa diterobos. Sebenarnya ini kesempatan karena desa yang sedang mencoba membangun perekonomiannya tidak hanya mengandalkan sumber daya dari desa itu sendiri. Mereka bisa berkolaborasi antar desa bahkan antar wilayah. Perlu diberikan suatu bimbingan supaya BUM Desa bisa mengembangkan potensi di daerah dan bisa berkolaborasi dengan yang stakeholder lain,” jelas Jimmy.
Jimmy mengatakan teori VECI selanjutnya akan diterapkan melalui Collaborative Leadership Program (Bersama Membangun Desa) yang diinisiasi Bakrie Center Foundation. Program ini akan difokuskan pada pengembangan kepemimpinan guna memperkuat kapasitas BUM Desa sebagai entitas bisnis yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Tak Hanya di Pasar Domestik, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Dorong BUMD Berani Ekspansi
Program tersebut dirancang dengan mengintegrasikan pembekalan kepemimpinan, analisis berbasis data, dan pendampingan lapangan. Program ini dapat diikuti oleh fresh graduate maupun pemuda lokal yang akan berperan sebagai fasilitator atau project officer.
Para peserta nantinya akan melakukan asesmen, mengidentifikasi tantangan dan potensi, serta berkontribusi dalam penguatan model bisnis BUM Desa secara kolaboratif bersama pengelola BUM Desa dan para pemangku kepentingan.
“Dengan dijalankannya Collaborative Leadership Program, saya harap semakin banyak BUM Desa yang bisa kita survei untuk melihat bagaimana kondisinya saat ini, sehingga intervensi yang nanti akan dilakukan bisa benar-benar efektif,” ungkap Jimmy.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: